Jumat, 08 November 2019

Bagian 59, Kenangan di Antara Air Mata


Seorang lelaki datang ke rumah memakai motornya. Turun sambil tersenyum menatapku, saat aku tengah mengantarkan telur-telur bebek ke pelanggan. Lelaki berwajah Ustadz itu mengucapkan salam dan menjabat tanganku.

”Tumben sore-sore silaturahim?”
”Iya Pak, saya mengantar undangan.”

Deg! Jantungku berpacu cepat, tapi aku sudah mempersiapkan segalanya. Pergulatan terjadi dalam hatiku, antara kebaikan dan keburukan, itulah yang terjadi di setiap hati manusia.
”Pak Arif, usahakan datang ya?”

”Insya Allah, Pak Yusuf.”

Aku tersenyum, mengiringi kepergiannya. Kubuka undangan itu, pelan-pelan. Tertulis dua nama colon mempelai. Aku memejamkan mataku, merasakan getar-getar cinta yang tersisa. Aku meraba hatiku dengan anganku.

Allah, temani jiwa hamba-Mu ini.
^___^

”Ayo siap-siap!”

Kang Mukhlis mengagetkanku saat aku tengah berdiri di depan cermin. Aku bergeser, Kang Mukhlis ganti membenahi kerah bajunya. Kang Mukhlis kini selalu tersenyum. Apa pasal? Dia telah melamar seorang wanita dan dua minggu lagi akadnya. Kau akan kaget dengan siapa beliau akan menikah, dia akan menikah dengan Ani, sang perawat itu.

Aku baru mengetahui cerita sesungguhnya. Isteri Kang Mukhlis adalah sepupu Ani, mereka berdua sekolah bersama di bidang keperawatan. Mereka berdua sama-sama mencintai Kang Muklis dulunya, tapi ternyata Kang Mukhlis memilih istrinya yang kini sudah meninggal. Dan meninggalnya sang isteri ternyata ketika melindungi Syahid dari Gagak Hitam. Gagak hitam membebaskan Syahid dengan syarat Kang Mukhlis tidak lagi mengurusi apa-apa yang ada di hutan lindung. Makanya, Kang Mukhlis selalu menjauhkanku dan warga desa Cahaya dari hutan lindung, agar kejadian serupa yang dialaminya tak terulang pada orang lain.

Kang Mukhlis melamar Ani atas permintaan Syahid juga, aku turut bahagia.
”Kau kenapa, Rif?”

”Iya, dia kan patah hati, Pak?” Syahid juga ikut-ikutan bercermin di depan ayahnya.
Kang Mukhlis menatapku, dia menyentuh kedua pundakku, ”Bersabarlah, Rif, kau orang yang baik. Pasti Allah mempersiapkan yang terbaik pula untukmu.”
Aku mengangguk.

Kami berangkat mengendarai sepeda motor yang Kang Mukhlis beli kemarin, platnya saja masih belum terpasang. Hari ini adalah hari pernikahan Bu Siska, jika menuruti perasaan sebenarnya aku tak mau datang, nanti hatiku akan semakin terasa sakit. Tapi kenyataan ada untuk ditaklukkan, bukan untuk ditinggalkan dan memilih lari sebagai pengecut.

Rumah Bu Siska terlihat ramai, parkir-parkir sepeda dan motor sudah kelihatan lumayan banyak. Terlihat janur kuning melengkung dari dua sisi masuk rumah, hiasan-hiasan bunga menyemarakkan suasana.

Sound system Bang Rizal bertumpuk dua berjumlah delapan sudah bertengger di samping rumah. Bukan musik dangdut yang terdengar dari kedelapan sound system itu, melainkan lagu-lagu religi baik shalawatan, nasyid, maupun pop religi, berganti-ganti.

”Ayo masuk, Rif.”
”Ayo, Kak.”
”Aku di sini dulu.”

Mereka meninggalkanku di depan rumah, di dekat janur kuning yang melengkung, bagai pelangi saat terang pasca gerimis, di belakang semua undangan yang tengah asyik memandangi dua pengurus KUA berpeci yang terlihat menata kertas-kertasnya, seolah mencari-cari surat kelengkapan pernikahan.

Aku berdiri, bersedekap. Orang-orang penting desa dan para dewan guru Sekolah Dasar Cahaya dan guru-guru baru di SMP Negeri Cahaya juga telah duduk di depan, Pak Lurah, dan juga Indah yang pulang sementara dari kota untuk menghadiri pernikahan ini. Semuanya tumpah ruah, duduk di kursi para tamu. Mungkin, yang berdiri hanyalah aku selain MC di depan dan juga para anak-anak yang berlarian.

MC mengumumkan akad akan segera dilaksanakan. Dadaku bergemuruh, pergulatan kuat terjadi di dalam hatiku, sangat dahsyat! Tidak akan ada yang tahu bahwa dalam dadaku ini, sedang terjadi, ada perasaan aneh yang menjajahi hatiku. Dan hatiku terus bertahan. Sekuat tenaga.

Baru sekarang aku menyadari sesuatu, ini pelajaran penting untukmu juga, Kawan. Aku telah banyak mengalami kesusahan mulai dari saat kuliah sudah biasa bagiku tak makan sehari atau dua hari kecuali hanya air putih, kesusahan mencari uang saat pembayaran kuliah mengejar deadline, menghadap dosen saat skripsi, dibantai beberapa dosen saat ujian, kelaparan saat di Jakarta, menjadi pemulung, menjadi pengangguraan dan selalu dihina. Tapi, cobaan cinta, apa pun bentuknya, inilah yang paling berat kurasakan. Saat cinta tak bisa memiliki, tapi harus ridha demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Cukuplah aku saja, Kawan, jangan sampai kau mencintai seseorang terlalu berlebihan. Maka inilah akibatnya.

Kulihat Bu Siska duduk berjauhan dengan Pak Yusuf, mereka saling pandang dan tercipta senyuman indah di antara keduanya. Penghulu memulai basa-basinya, dan akad diucapkan. Detik-detik yang berlangsung semuanya terdiam kaku, kecuali binatang-binatang siang yang bernyanyi riang. Akad ditunaikan. Angin berhembus semilir, menerbangkan sebuah daun kering yang terjatuh dari pohonnya, aku bergetar di tempatku berdiri. Kukuatkan diriku. Aku meraba hatiku kembali, Allah.

Air mataku menetes, tak terasa bergulir mendekati bibirku. Daun yang jatuh terus meliuk, bagai kapas lembut terombang-ambing di angkasa, hingga aku tertarik untuk melihat jatuhnya. Saat daun kering itu sejajar dengan wajahku, tepat lurus dari daun itu kawan, mata seseorang bertabrakan denganku, aku terperanjat dia juga. Dia juga meneteskan air matanya.

Kenangan-kenangan tiba berputar ulang dalam memoriku, merampas masa kini yang terjadi, dan aku hanyut dalam memori itu.

”Ternyata sangkaku benar, kaulah pahlawan desa Cahaya yang ramai diberitakan di media massa,” dia berdiri di dekatku, tangannya bertumpu, berpegang pada pagar di depan rumah.

Aku memandangnya sejenak, lalu beralih kembali menatap lalu lalang orang yang datang dan pergi menghadiri pernikahan Pak Yusuf dan Bu Siska. Aku sendiri kaget bukan main, ternyata wanita yang sedang berbincang di sampingku ini adalah saudara sepupu Bu Siska, dia adalah anak dari adik kandung ibunya Bu Siska.

Aku kaget, karena kami bertemu lagi. Keadaannya hampir sama, dia menangis melihatku menangis. Kau masih belum tahu siapa wanita yang di sebelahku, Kawan? Dia adalah wanita yang menangis sewaktu aku kelulusan saat wisuda, dia adalah temanku satu fakultas.

Kau pasti sudah ingat bukan, dia adalah Nurul Fitriyani. Kini, di hari pernikahan Bu Siska, dia juga hadir di sini, meneteskan air matanya untuk kedua kalinya untukku. Aku menatap langit sejenak, mencoba mencari jawaban. Bukankah di dunia tak ada yang kebetulan Tuhan? Kenapa dia kau turunkan setiap hamba meneteskan air mata?

”Apakah aku setenar itu?”

”Iya, makanya aku ke sini memastikan bahwa pahlawan desa Cahaya itu adalah kamu,” Nurul menatap langit pula, ”Aku sudah yakin itu adalah kamu, Rif. Seperti keyakinanku selama kita bersama belajar di kampus. Saat pertama kali bertemu denganmu pun, aku sudah yakin, suatu saat kau akan menjadi orang besar.”

”Orang besar? Dari mana asalnya?” aku tertawa kecil, sifat acuhku telah kembali, aku kembali seperti dulu rasanya.
”Siapa yang membuat desa ini maju begini? tentang pasar Cahaya, tentang hutan lindung, tentang kau difitnah, tentang kemajuan sekolah, tentang mimpi yang selalu kau ajarkan. Apakah itu tak cukup?”
”Wah! Jadi, selama ini kau selalu mematai-mataiku, ya?”
”Tidak juga.”

”Lalu?”
”Aku selalu berkirim surat dengan saudariku itu,” Nurul memberi isyarat kepalanya ke arah dua mempelai, yang tengah tersenyum kepada setiap orang yang memberi ucapan selamat kepada mereka.
”Benar juga,” aku tersenyum, ”tapi, tak semuanya benar. Aku hanya membantu saja, orang-orang Cahaya-lah yang mau bangkit dan merubah keadaan mereka sendiri. Merekalah pahlawan-pahlawan itu.”
”Kau selalu begitu.”

”Apa maksudmu?”
”Sudahlah! Lupakan saja.”
Kami terdiam.
”Kamu tahu, Rif?”
”Apa?”

”Sebenarnya Bu Siska sangat mencintaimu, dia sangat kagum padamu.”
Deg!
”Sudahlah, Nur, jangan kau ungkit itu lagi. Jangan kau ganggu kebahagiaannya, lihatlah, dia sangat bahagia dalam pelaminan itu.”
”Iya, kadang tidak semua hal  yang kita sukai sesuai dengan takdir Allah.”
”Kamu benar. Oya, apakah kamu sudah menikah, Nur?” aku menatap langit.
”Memangnya kenapa kau tanya begitu?”

Aku menatapnya sekilas, sama seperti dulu. Tidak berubah, dia memang terlihat manja, tapi pipinya terlihat merah.
”Kau jawab saja.”
”Belum, memangnya kenapa. Ayo jawab?”

”Ha..ha..ha..,” aku tertawa pelan, ”Ternyata kita sama-sama, tak laku-laku.”
Tawaku ini jujur. Kesedihanku telah terobati walau belum sepenuhnya, setiap masalah pasti ada kebaikan di baliknya. Setiap kesusahan itu, selalu sebentar lagi ada kebaikan yang akan menyusul.
”Oya, Nur”

”Hmmm,” Nurul menengok ke arahku sejenak, lalu kembali menatap di depannya.
”Kenapa jika kita bertemu, pastilah saat aku sedang menangis, dan kau juga ikut menangis?”
”Kali aja ini namanya jodoh.”

”Mungkin juga, mungkin lucu jika kita menikah.”
”Iya, mungkin lucu,” dia tertawa kecil.

Mendung berarak, menutupi sejenak matahari siang ini, lalu pindah lagi dan matahari kembali, berpijar dengan terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar