Jumat, 08 November 2019

Bagian 58, Jikalau...


Hancur dan hangus. Begitulah hatiku, seperti kertas dan dedaunan kering yang terbakar, musnah. Semua yang tersisa, habis sudah dalam jiwaku. Seolah harapan dan mimpi kering seketika, tak membekas setitik jejak pun dalam raga ini.

Andai kau tahu perasaanku ini, Kawan.

Malam-malam menjadi menyeramkan, bukan karena ada hantu yang membayang dan menakuti, melainkan resah gelisah menyelimuti. Tak bisa tidur, memiringkan tubuh ke kiri dan ke kanan, mata yang terpejam tak kuat menanggung dan akhirnya terbuka kembali. Menatap atap genting, melayang terbang angan, gelisah kembali, seolah sebuah lauk dalam penggorengan.

Allah, apa yang terjadi?

Aku bangun, kubuka mushaf Qur`an. Kubaca penuh syahdu merindu, belum genap satu ayat, air mataku telah deras mengalir. Aku tak pernah begini seumur hidupku. Semakin berat suaraku, semakin mendayu, serasa duri-duri tajam menggerogoti tenggorokanku. Suaraku semakin pecah.
Lantunan ayat-ayat cinta itu tiba-tiba seolah ratapan yang semakin lama semakin memilukan hatiku. Kuhentikan. Kutaruh mushaf di atas meja. Kugelar sajadah berwarna biru muda.

Kucoba tenangkan diri dengan shalat.
Allahu Akbar!

Belum lengkap dua detik, air mataku kembali melelah, hangat hingga melintasi pipiku dan jatuh di lembutnya sajadah biru muda. Kupejamkan mata sejenak, agar ketenangan melingkupiku. Tapi air mataku semakin berjejalan keluar, berdesak-desakan.

Hingga sajadahku terasa basah saat sujudku. Jiwaku belum tenang, menghantui segala memori. Nyamuk-nyamuk yang menggigit tak mampu membuatku melupakan wajah wanita bermata lentik, berwarna buah anggur unggu sewaktu matangnya.

Gilakah aku, Tuhan?

Aku bangkit, melipat sajadah dan pergi di pagi-pagi buta mendekati waktu subuh itu. Semalaman aku begadang, tak bisa tertidur. Kau tahu kawan, nasib tidurku sama dengan nasib makanku. Aku benar-benar tak berselera memakan nasi, plus lauk telur bebek goreng. Nafsu makanku hilang, ketertarikan itu seolah hilang.

Perut yang lapar seolah tak terasakan lagi. Semuanya lunas.
Kupaksakan langkahku semakin cepat, berjalan di pagi-pagi buta. Aku berhenti di sebuah pohon kelapa, mendudukkan diriku di bawahnya, udara dingin menyerangku hingga ke tulang sum-sum.
Di depanku, pojok ke arah timur tepatnya. Rumah Bu Siska, kenapa aku di sini? Apa yang terjadi denganku kali ini? Kenapa perasaan seperti ini sempat bersemayam dalam jiwaku? Dan, aku benar-benar telah gila!

Suara lantunan al-Qur`an terdengar mendayu pula, suara yang teramat lembut berasal dari rumah di depanku itu, suara Bu Siska. Suara serak dan berat juga kurasakan di dalam bacaannya, aku semakin tak kuat menahan rasa di perasaanku. Air mataku kembali menetes ke bumi, bersama serpih-serpih embun lentik yang turun memenuhi bumi.

Suara lantunan Qur`annya berbeda dari hari-hari biasanya, kalau biasanya menyentuh dan membuatku kagum. Kini, tilawah Bu Siska terdengar seolah tangisan yang diselingi isak.
Kawan, kau harus tahu jerit  hatiku.

Jikalau cinta ini tak pernah ada
Tak akan ada hatiku luka
Jikalau cinta ini tak pernah ada
Tak pernah ada sakit hati
Jikalau...
***

Kokok ayam terdengar. Meluruhkan segala rasa, semesta terdiam mendengarkannya. Sebentar lagi azan. Aku memaksa tubuhku bergerak, saat berjalan kakiku menginjak pelepah daun kelapa, suaranya keras karena kayu di tengahnya patah, serta suara-suara daun patahnya terdengar keras di pekatnya pagi.

Sunyi kembali, aku masih tak berani bergerak.

”Nggeeek!” pintu terbuka, sosok wanita memakai mukena keluar dan mengamati sekelilingnya, kurasa dia mendengarkan suara gemeretak daun kepala yang kuinjak. Di sana, aku melihat wanita itu, wanita yang telah membuatku gelisah. Dia tak melihatku, aku berada di balik pohon kelapa.

Mataku terpaku melihatnya dengan balutan serba putih itu. Mungkin, ini adalah tatapan penuh arti yang terakhir untuknya. Setelah ini, dia akan menikah dengan lelaki yang sangat baik dan tampan, lelaki itu Pak Yusuf. Lebih bisa membahagiakan dan menjaga Bu Siska, lebih bisa memberi kenyamanan, lebih bisa memberikan teladan daripada aku.

Air mataku menetes, tepat kala azan berkumandang. Kubawa pergi jiwa ini, berlari begitu kencangnya, tak peduli apakah Bu Siska sempat melihat kelebatku dari balik pohon kelapa. Dan air mata yang menetes, terbang berhamburan, tak mampu tertiup angin, hingga menyatu dengan embun pagi.

Pak Lukman terlihat shalat sunnah, aku berdiri di sampingnya untuk shalat sunnah. Iqamah berkumandang dan shalat segera ditunaikan.

Selesai shalat, kulihat sejenak wajah Pak Yusuf, wajahnya terlihat sangat ceria. Dia menoleh ke arahku, pandangan mata kami bertemu. Akhirnya kuangkat bibirku, membentuk senyum simpul, Pak Yusuf membalas senyumku.

Lelaki ini memang pantas untuk Bu Siska.

Aku kembali hanyut dalam zikirku, kupastikan hatiku merelakan semuanya. Namun, jujur, gelisah dan resah akan hati tetaplah tak bisa terobati. Aku masih tidak rela, kenapa aku yang begitu mencintainya harus melihat dia bersanding dengan orang lain? Kembali, jiwaku terhasut, jiwa dan perasaanku kembali kacau.

Aku ini lelaki apa? Air mataku menetes kembali. Untunglah, jamaah shalat Subuh telah pulang, tinggal satu orang di sampingku. Pak Lukman. Dia berbalik ke arahku, menyentuh pundakku. Aku menoleh ke arahnya.

”Kau mau mendengar nasihatku lagi?”
”Iya,” suaraku berat, serak.

”Ketika kita meminta kepada Allah kekuatan, Allah memberi kita cobaan dan ujian, sehingga kita menjadi kuat. Ketika kita meminta ketabahan hati, Allah memberi kita masalah bertubi-tubi datang sehingga kita mampu bersabar. Ketika kita meminta rezeki, Allah memberi kita kegigihan, sehingga kita mampu bertahan hidup. Allah, tidak selalu memberikan yang kita minta, melainkan memberi apa yang kita butuhkan, dan, skenario Allah tak pernah sekali pun salah. Pemenang di akhir episode hidupnya adalah yang selalu ridha akan ketetapan-Nya.”

”Tapi kenapa semuanya serba terlambat?”
”Tak ada kata terlambat, Anakku,”

Untuk urusan apa pun aku selalu bisa bertahan dan menjadi pemenang. Tapi, untuk urusan cinta, aku sangat lemah. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya.

”Peluklah aku,” aku memeluk lelaki tua itu, ”Jika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan memberinya cobaan. Inilah saatnya, kau buktikan pada Tuhan betapa kau kuat menanggung cobaan ini.”
”Tapi, kenapa cobaan ini amat menyakitkan?” aku menangis di  pelukan Pak Lukman.
”Semakin berat cobaan, semakin itu akan membuatmu menjadi mulia, Anakku.”

”Jikalau cobaan yang lain, seberat apa pun aku akan berusaha menghadapinya. Tapi, jangan cobaan cinta. Jikalau…”

”Janganlah berandai-andai, jika kau seperti ini, kau hanya menunjukkan kekerdilan jiwamu, Anakku,” Pak Lukman melepaskan pelukannya. Kami bertatapan.
”Tapi, aku gelisah tak tenang. Jiwaku telah tergadai, aku kesepian. Aku merasa dunia ini sangat sepi.”
”Kau merasa kesepian?”

Aku hanya mengangguk, walau kutahu dia tak melihat anggukanku, tapi itu sudah menjawab pertanyaannya dengan diamku.

”Kau tak pernah sendirian, Allah selalu bersamamu. Jika kau tahu hakikat Allah, dia ada di hatimu,” Pak Lukman meletakkan telapak tangannya di dadaku, ”Dia tak akan pernah meninggalkanmu. Dia bersamamu, selalu, menenangkan hatimu kala ujian dan cobaan menerpa. Dia selalu bersamamu, mengobati setiap lukamu, membawa jiwamu dalam ketenangan.”
Seolah angin sejuk menerpa hatiku.


Kugerakkan tanganku, menyentuhkan telapaknya pada dadaku. Tuhan! Kuatkan hamba-Mu, karena perjalanananku masih panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar