Hancur dan hangus.
Begitulah hatiku, seperti kertas dan dedaunan kering yang terbakar, musnah.
Semua yang tersisa, habis sudah dalam jiwaku. Seolah harapan dan mimpi kering
seketika, tak membekas setitik jejak pun dalam raga ini.
Andai kau tahu perasaanku
ini, Kawan.
Malam-malam menjadi
menyeramkan, bukan karena ada hantu yang membayang dan menakuti, melainkan
resah gelisah menyelimuti. Tak bisa tidur, memiringkan tubuh ke kiri dan ke
kanan, mata yang terpejam tak kuat menanggung dan akhirnya terbuka kembali.
Menatap atap genting, melayang terbang angan, gelisah kembali, seolah sebuah
lauk dalam penggorengan.
Allah, apa yang
terjadi?
Aku bangun, kubuka mushaf Qur`an.
Kubaca penuh syahdu merindu, belum genap satu ayat, air mataku telah deras
mengalir. Aku tak pernah begini seumur hidupku. Semakin berat suaraku, semakin
mendayu, serasa duri-duri tajam menggerogoti tenggorokanku. Suaraku semakin
pecah.
Lantunan ayat-ayat cinta
itu tiba-tiba seolah ratapan yang semakin lama semakin memilukan hatiku.
Kuhentikan. Kutaruh mushaf di atas meja. Kugelar sajadah berwarna biru muda.
Kucoba tenangkan diri
dengan shalat.
Allahu Akbar!
Belum lengkap dua detik, air
mataku kembali melelah, hangat hingga melintasi pipiku dan jatuh di lembutnya
sajadah biru muda. Kupejamkan mata sejenak, agar ketenangan melingkupiku. Tapi air
mataku semakin berjejalan keluar, berdesak-desakan.
Hingga sajadahku terasa
basah saat sujudku. Jiwaku belum tenang, menghantui segala memori.
Nyamuk-nyamuk yang menggigit tak mampu membuatku melupakan wajah wanita bermata
lentik, berwarna buah anggur unggu sewaktu matangnya.
Gilakah aku, Tuhan?
Aku bangkit, melipat
sajadah dan pergi di pagi-pagi buta mendekati waktu subuh itu. Semalaman aku
begadang, tak bisa tertidur. Kau tahu kawan, nasib tidurku sama dengan nasib
makanku. Aku benar-benar tak berselera memakan nasi, plus lauk telur bebek
goreng. Nafsu makanku hilang, ketertarikan itu seolah hilang.
Perut yang lapar seolah
tak terasakan lagi. Semuanya lunas.
Kupaksakan langkahku
semakin cepat, berjalan di pagi-pagi buta. Aku berhenti di sebuah pohon kelapa,
mendudukkan diriku di bawahnya, udara dingin menyerangku hingga ke tulang
sum-sum.
Di depanku, pojok ke arah
timur tepatnya. Rumah Bu Siska, kenapa aku di sini? Apa yang terjadi denganku
kali ini? Kenapa perasaan seperti ini sempat bersemayam dalam jiwaku? Dan, aku
benar-benar telah gila!
Suara lantunan al-Qur`an
terdengar mendayu pula, suara yang teramat lembut berasal dari rumah di depanku
itu, suara Bu Siska. Suara serak dan berat juga kurasakan di dalam bacaannya,
aku semakin tak kuat menahan rasa di perasaanku. Air mataku kembali menetes ke
bumi, bersama serpih-serpih embun lentik yang turun memenuhi bumi.
Suara lantunan Qur`annya
berbeda dari hari-hari biasanya, kalau biasanya menyentuh dan membuatku kagum.
Kini, tilawah Bu Siska terdengar seolah tangisan yang diselingi isak.
Kawan, kau harus tahu
jerit hatiku.
Jikalau cinta ini tak
pernah ada
Tak akan ada hatiku
luka
Jikalau cinta ini tak
pernah ada
Tak pernah ada sakit
hati
Jikalau...
***
Kokok ayam terdengar.
Meluruhkan segala rasa, semesta terdiam mendengarkannya. Sebentar lagi azan.
Aku memaksa tubuhku bergerak, saat berjalan kakiku menginjak pelepah daun
kelapa, suaranya keras karena kayu di tengahnya patah, serta suara-suara daun
patahnya terdengar keras di pekatnya pagi.
Sunyi kembali, aku masih
tak berani bergerak.
”Nggeeek!” pintu terbuka,
sosok wanita memakai mukena keluar dan mengamati sekelilingnya, kurasa dia
mendengarkan suara gemeretak daun kepala yang kuinjak. Di sana, aku melihat
wanita itu, wanita yang telah membuatku gelisah. Dia tak melihatku, aku berada
di balik pohon kelapa.
Mataku terpaku melihatnya
dengan balutan serba putih itu. Mungkin, ini adalah tatapan penuh arti yang
terakhir untuknya. Setelah ini, dia akan menikah dengan lelaki yang sangat baik
dan tampan, lelaki itu Pak Yusuf. Lebih bisa membahagiakan dan menjaga Bu Siska,
lebih bisa memberi kenyamanan, lebih bisa memberikan teladan daripada aku.
Air mataku menetes, tepat
kala azan berkumandang. Kubawa pergi jiwa ini, berlari begitu kencangnya, tak
peduli apakah Bu Siska sempat melihat kelebatku dari balik pohon kelapa. Dan air
mata yang menetes, terbang berhamburan, tak mampu tertiup angin, hingga menyatu
dengan embun pagi.
Pak Lukman terlihat shalat
sunnah, aku berdiri di sampingnya untuk shalat sunnah. Iqamah berkumandang dan shalat
segera ditunaikan.
Selesai shalat, kulihat
sejenak wajah Pak Yusuf, wajahnya terlihat sangat ceria. Dia menoleh ke arahku,
pandangan mata kami bertemu. Akhirnya kuangkat bibirku, membentuk senyum
simpul, Pak Yusuf membalas senyumku.
Lelaki ini memang
pantas untuk Bu Siska.
Aku kembali hanyut dalam
zikirku, kupastikan hatiku merelakan semuanya. Namun, jujur, gelisah dan resah
akan hati tetaplah tak bisa terobati. Aku masih tidak rela, kenapa aku yang
begitu mencintainya harus melihat dia bersanding dengan orang lain? Kembali,
jiwaku terhasut, jiwa dan perasaanku kembali kacau.
Aku ini lelaki apa? Air
mataku menetes kembali. Untunglah, jamaah shalat Subuh telah pulang, tinggal
satu orang di sampingku. Pak Lukman. Dia berbalik ke arahku, menyentuh
pundakku. Aku menoleh ke arahnya.
”Kau mau mendengar nasihatku
lagi?”
”Iya,” suaraku berat,
serak.
”Ketika kita meminta
kepada Allah kekuatan, Allah memberi kita cobaan dan ujian, sehingga kita
menjadi kuat. Ketika kita meminta ketabahan hati, Allah memberi kita masalah bertubi-tubi
datang sehingga kita mampu bersabar. Ketika kita meminta rezeki, Allah memberi
kita kegigihan, sehingga kita mampu bertahan hidup. Allah, tidak selalu
memberikan yang kita minta, melainkan memberi apa yang kita butuhkan, dan,
skenario Allah tak pernah sekali pun salah. Pemenang di akhir episode hidupnya
adalah yang selalu ridha akan ketetapan-Nya.”
”Tapi kenapa semuanya
serba terlambat?”
”Tak ada kata terlambat, Anakku,”
Untuk urusan apa pun aku
selalu bisa bertahan dan menjadi pemenang. Tapi, untuk urusan cinta, aku sangat
lemah. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya.
”Peluklah aku,” aku
memeluk lelaki tua itu, ”Jika Allah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan
memberinya cobaan. Inilah saatnya, kau buktikan pada Tuhan betapa kau kuat
menanggung cobaan ini.”
”Tapi, kenapa cobaan ini
amat menyakitkan?” aku menangis di
pelukan Pak Lukman.
”Semakin berat cobaan,
semakin itu akan membuatmu menjadi mulia, Anakku.”
”Jikalau cobaan yang lain,
seberat apa pun aku akan berusaha menghadapinya. Tapi, jangan cobaan cinta.
Jikalau…”
”Janganlah berandai-andai,
jika kau seperti ini, kau hanya menunjukkan kekerdilan jiwamu, Anakku,” Pak
Lukman melepaskan pelukannya. Kami bertatapan.
”Tapi, aku gelisah tak
tenang. Jiwaku telah tergadai, aku kesepian. Aku merasa dunia ini sangat sepi.”
”Kau merasa kesepian?”
Aku hanya mengangguk,
walau kutahu dia tak melihat anggukanku, tapi itu sudah menjawab pertanyaannya
dengan diamku.
”Kau tak pernah sendirian,
Allah selalu bersamamu. Jika kau tahu hakikat Allah, dia ada di hatimu,” Pak
Lukman meletakkan telapak tangannya di dadaku, ”Dia tak akan pernah
meninggalkanmu. Dia bersamamu, selalu, menenangkan hatimu kala ujian dan cobaan
menerpa. Dia selalu bersamamu, mengobati setiap lukamu, membawa jiwamu dalam
ketenangan.”
Seolah angin sejuk menerpa
hatiku.
Kugerakkan tanganku,
menyentuhkan telapaknya pada dadaku. Tuhan! Kuatkan hamba-Mu, karena
perjalanananku masih panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar