Kamis, 31 Oktober 2019

Chapter 2, Jupiter Wind

Chapter 2
Jupiter Wind

Suara ayam berkokok dan suara hewan pagi saling bersahutan, rumah terpencil di ujung desa, rumah Noran dan Kaja.

Entah mengapa, Kaja merasa heran dia diminta Cuma membawa dua ember air dan disuruh pulang segera setelah mengambil air tersebut. Bahkan, Kaja diminta tak mengambil air di gunung dan hanya di ujung desa dimana ada sumur umum yang bisa digunakan oleh siapapun.

Kaja keheranan, namun terus bergegas mengambil air tersebut. Sampai melewati Perguruan Angin Timur, Kaja kembali diejek.

“Sampah sedang sakit! Dia bawa dua ember saja, hahahaha,” Baron dan rekan-rekannya masih membully, kecuali Putri yang kasihan melihat Kaja. Guru Perguruan yang berada ditingkatan tertinggi Perak mendiamkan murid-muridnya menghina Kaja. Di perguruan Angin Timur punya 5 guru utama, kelimanya adalah anggota Aflif dari Desa Pertiwi. Ya, mereka mendapatkan tugas dari Aflif Pusat untuk mengajar di desa mereka, membina generasi baru agar banyak pahlawan baru yang lahir dan membantu perdamaian dunia, itu misi mereka.

Arda, pemimpin Aflif dan menjadi pendiri perguruan Angin Timur. Prabu, Loka, Samo dan Bunto merekalah tumpuan harapan desa untuk mendidik anak-anak desa untuk memiliki masa depan yang cerah. Selain mendapatkan bayaran dari Aflif pusat mereka juga mendapatkan berkah setoran dari sukarela masyarakat. Sudah 10 tahun mereka mengabdi dan memenuhi misi Aflif di desa Pertiwi.

Kaja tak mempedulikan olok-olok para murid Perguruan Angin Timur, dia bergegas.

“Hentikan semua latihan! Kita akan menyaksikan pertandingan terbesar di dunia, penantang baru akan mencoba merebut tahta Lord Master. Ayo bersiap dan menyaksikan Televisi!” Semua murid tersenyum, “Ayo!”

Kaja sempat mendengarnya, dia pun bergegas pergi dan mempercepat langkahnya agar sampai rumah dan mendapatkan kesempatan untuk menonton pertandingan lima tahunan tersebut. Ya, pertandingan akan dibagi dalam kualifikasi 5 benua, hingga mendapatkan 4 pemenang setiap benua dan akhirnya ke 20 peserta terbaik bertanding untuk menentukan siapa yang bisa mengalahkan Lord Master sang pemimpin Aflif. Jika menang, dia akan menggantikan Lord Master sesuai dengan kebijakannya dengan para penasehat Aflif.
Tentu saja semua orang ingin menjadi peserta dan bisa menjadi Lord Master, dan syaratnya ikut turnamen adalah menjadi anggota Aflif.
* * * * *
Kaja menaruh ember air, belum sempat duduk dia dipanggil Kakeknya.
“Kesinilah, bukankah kau ingin melihat pertarungan Lord Master?”

Kaja mengangguk dan mendekati Noran, tv sudah menyala. Penyiar pertandingan sedang berapi-api memberikan arahan dan siapa pemenang turnamen 5 benua dan orang paling beruntung berkesempatan menjadi Lord Master berikutnya. Namun, jika itu dia bisa mengalahkan Lord Master yang sudah 15 tahun memimpin Aflif dan tak terkalahkan, Gasan Arwana.

Pertandingan dimulai, Lord Master mengenakan topeng seperti biasanya. Ketegangan terjadi dalam pertempuran itu meskipun itu dari layar televisi. Sorak penonton histeris meneriakkan Gasan! Gasan! Menang!

Kaja ikut terbawa suasana, matanya berbinar. Namun, Noran Kakeknya seolah santai saja dan acuh. Lebih dari 10 menit pertarungan masih berlanjut

Booom Booom Booom
Wusssshhhh

Lawan Lord Master, Master Ramaya mengeluarkan dentuman keras dengan tombaknya, bayangan Srigala Perak hampir menembus dinding penghalang Lord Master. Ramaya penantang menggunakan Kekuatan Rakuta yang diperolehnya, Srigala Perak.

“Kakek, Pertarungan mereka luar biasa!”
“Biasa saja Kaja, sebentar lagi juga kelar. Lord Master pasti menang!” Noran menjawab santai.
“Darimana Kakek tahu, lihat saja Ramaya mendesak mundur Lord Master pertahanannya hampir jebol.”

Penyiar pertarungan lantang bersuara, “Apakah Ramaya akan sukses mengalahkan Gasan Arwana dan menjadi Lord Master yang baru! Menarik! Menarik! Kita lihat saja!”

Saat itulah Nampak senyuman kecil dari Lord Master Gasan, dia menarik tangan kirinya ke belakang dan muncullah bayangan Mamoth besar menjuntai belalali dan gading berjumlah 6. Ramaya kaget dan keadaan berbalik, serangan kemudian saling bersahutan, perbedaan kekuatan mulai terlihat. Pada akhirnya, Lord Master kembali dimenangkan oleh Gasan, Ramaya mengaku kalah.

*****
Noran mematikan TV-nya dan tak peduli dengan Kaja yang masih terlihat takjub akan pertandingan tersebut.
“Ikuti aku Kaja! Aku akan mengajarimu sesuatu yang paling penting dalam hidupmu, ini akan menjadi bekal selama hidupmu.”

Kaja berpikir kalau Kakeknya akan mengajari receptarier lagi atau obat baru, sayangnya Kaja salah. Saat melangkah meninggalkan Rumah dan meninggalkan pelataran rumah yang luas itu, Noran berhenti dan Kaja pun berhenti tepat di belakangnya.

“Kaja! Ikuti aku, jangan teralihkan dan fokus mengikuti aku! Ingat, jika kau tak bisa mengikutiku di belakangku, Kau akan menyesal!”
Ada aura yang muncul dari tubuh Noran, energinya meluap, Apa Ini?? Kaja kaget, seolah ini pertama kalinya Kakeknya bicara serius sekali, angin hembusan energi bahkan sangat kuat hendak mementalkan tubuh Kaja.

“MULAAIII!”

Noran berteriak dan angin di sekitarnya seolah air mengalir, dia terlihat berlari dengan cepat. Kaja mengikutinya dan mencoba berlari, entah kenapa dia bisa terus mengejar Kakeknya. Selama ini, dia memang setiap hari berlari sebagai hukuman, tapi itu berlari biasa. Kali ini, Dia berlari sangat cepat dan tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Noran semakin cepat, Kaja pun tak mau tertinggal. Semakin cepat! Cepat dan cepat. Noran bahkan seolah seperti kilat dan meliuk menghindari pepohonan lebat, Kaja pun konsentrasi, matanya terlihat jernih bercahaya, dia menghindari pepohonan meskipun beberapa kali hendak menabrak tapi dia kemudian fokus dan akhirnya bisa menstabilkan tubuh dan kecepatannya.

Mereka bahkan kini sangat cepat seperti dua kilatan petir yang bekejaran. Terus berlari, sesekali menendang pohon dan beralih ke pohon lain untuk memberikan tekanan agar lebih cepat. Kaja mengikuti semua gerakan Noran Kakeknya, dia baru sadar bahwa dirinya menjadi sosok yang luar biasa dan tak bisa dibayangkannya.

Noran tiba-tiba berhenti di tepiah  danau yang luas, di atasnya ada air terjun yang deras dan tinggi sekali. Noran tersenyum saat menyadari Kaja bisa mengikutinya dengan baik.

“Itu adalah pelajaran pertama, Kau menguasai teknik Wind Speed.”

Kaja menjadi heran, dia sedikit menahan napasnya karena masih terlihat sedikit lelah namun segera mengatur napasnya dan memulihkan dirinya dengan Teknik pengobatan dan pemurnian jiwa.

“Pelajaran Kedua, Lihat Aku dan konsentrasi!”
Noran melangkahkan kaki kanannya di air di pinggiran danau itu, gelombang riak air terjun terlihat namun Noran tetap menaruh kaki kanannya di atas air. Kaja sedikit khawatir, Kakek, air danau ini sangatlah dalam. Tapi, Kaja diam tak bersuara.

Keajaiban terjadi, Noran tetap terjaga dengan kaki kanannya menempel di air di susul kaki kirinya dan melangkah biasa saja di air. Kaja terkejut luar biasa, matanya keheranan membulat. Ini luar biasa.

Noran melangkah dengan santai dan kedua tangannya bersedekap hingga ke tengah danau, tepat sekitar 10 meter sebelum air terjun yang deras itu.

“Kaja! Percayalah dan lakukan seperti Kakek, kau hanya perlu konsentrasi dan meringankan tubuhmu!”

Kaja tak peduli lagi, dia konsentrasi. Selama ini, dia yakin sepenuhnya pada kakeknya, apapun itu. Kaja memusatkan energi di hatinya, membuat gerakan seringannya, dan keajaiban pun terjadi dia melangkah meskipun awalnya agak goyang namun akhirnya dia menstabilkan tubuhnya dan mendekati kakeknya, dia berjalan di atas air, Kaja kagum luar biasa, Amazing.

Noran kembali tersenyum, Sesuai harapannya, anak ini punya bakat besar.

“Kaja, kau sudah menguasai Soul Balancing, kau bisa berkembang lebih besar nantinya. Kini, pelajaran ketiga, perhatikan kakekmu ini baik-baik.”

Noran sedikit memajukan kaki kanannya di atas air, memundurkan sedikit kaki kirinya. Sedikit menunduk untuk memperoleh keseimbangan, air di sekitar kaki Noran pun bereaksi, seolah riak berputar seperti ada angin tekanan menyebar. Dan…… Wuuussssssshhhhhh!

Kaja kaget, matanya membesar. Dia benar-benar tak percaya, dia melihat Kakeknya terbang melompat ke atas langit meninggalkannya dan melewati air terjun dan mendarat dengan indah di tebing atas di dekat air terjun.

Belum sempat hilang kekagetannya, Noran sudah berteriak dari atas air terjun, “Kaja! Lakukanlah!”

Kakek benar-benar gila! Ternyata dia menyembunyikan kemampuan sehebat ini?

Kaja berkonsentrasi, energinya meluap ada kebahagiaan dan rasa takjub bercampur, dia memusatkan energi di ujung kaki-kakinya dan… “ Terbaaaangggg!” Kaja berteriak dan dia benar-benar terbang melompat sangat tinggi, bahkan saking semangatnya dia sadar bahwa dia sudah melewati kakeknya dan melompat dengan sangat tinggi hingga tak bisa menstabilkan tubuhnya sendiri.

“Sial! OH Tuhan!” Noran tertawa terkekeh melihat Kaja mendekap pohon tinggi di atas air terjun, dia menabrak pohon karena lompatannya terlalu tinggi. Dasar bocah!

Kaja menggaruk kepalanya dan melompat turun, dia turun dengan mudah dan menapak tanah di dekat Kakeknya berada.

“Kaja, inilah latihanmu selama ini. Setiap hari yang kamu lakukan sesungguhnya adalah latihan, mulai dari mengambil air hingga seluruh hukuman adalah latihanmu. Penyiksaan yang kamu alami selama 10 tahun adalah penggemblengan dirimu untuk meraih takdirmu.”

“Kakeek,” Kaja baru menyadari sekarang, meski curiga tapi Kaja tak pernah protes sekalipun. Setiap hari harus mengambil air dari mata air di atas gunung, alasannya hanya dengan air itu Kakeknya tetap segar. Setiap hari menerima hukuman, push up, lari. Dan, siang harinya belajar pengobatan, semuanya adalah untuk menempanya.

Kaja menekuk satu lututnya, membungkung, airmatanya menetes. Jadi, selama ini Kakek bukanlah orang yang kejam. Dia hanya melatihku.

“Bangunlah Kaja,” Noran membantu cucunya itu bangun. Kaja pun bangun.
“Dengarlah, aku akan mengajarimu jurus pamungkas yang aku miliki, kau sudah memenuhi syarat dan ini bisa menjagamu dari serangan musuh yang kuat. Lihat dan dengarkan Kakek baik-baik, karena bisa jadi terakhir kali aku mengajarimu.”
Kaja hanya terdiam dan seluruh inderanya mengarah fokus ke Kakeknya.

Noran mundur beberapa langkah, dia membuka kedua tangannya ke masing-masing arah, udara pun seolah berkobar di sekitarnya. Kaja dapat merasakan tenaga yang luar biasa terpancar. Lalu, tangan kanan Noran ke atas, jari telunjuknya mengarah satu keatas. Saat itulah seolah ada kilauan yang berpusat di atas jari telunjuk itu, membentuk lingkaran.

“Konsentrasi, tarik dan pusatkan energi di luar dirimu di sekitarmu. Semakin banyak energi yang bisa kau kumpulkan dari alam itu lebih dahsyat, lalu pusatkan energimu untuk mengawal energi dari alam tersebut.”

Lingkaran energi mulai berkumpul dari alam menuju jari telunjuk Noran, terus memutar dan berpusat, sementara ada semacam ikatan energi seperti cincin mengitari lingkaran energi itu. Semakin membesar bola energi, semakin besar pula cincin energi yang mengikatnya.

“Kaja, jika energimu besar, kau bisa menampung energi alam dan itu akan membuat daya kekuatannya tak terbatas. Ini hanya demo.”

Noran menghentikan kumpulan energi itu, pusarannya terlihat dahsyat dan…

“JUPITER WIND” Noran melemparkan bola dan cincin itu ke bawahnya, agak condong jauh dan sesuatu yang ajaib terjadi.

DUAARRR DUAARRR BRAAAKKK !!

Ledakan besar, bahkan tiga pohon ikut terkena energi dan rubuh, dan juga sebuah lubang besar di bumi tercipta cukup besar dan seolah ada meteorid jatuh. Mata Kaja terbelalak melihatnya, dahsyatnya.

“Cobalah Kaja, konsentrasilah, jika kau menciptakan kecil tak mengapa itu sudah berpotensi mengingat kamu baru sekali mencobanya.”

Kaja memejamkan matanya, dia mengangkat tubuhnya ke atas, meringankan tubuhnya dan menstabilkan dirinya. Dia melayang sekira 7 meter dari permukaan tanah dan Noran melihatnya dari bawah. Kaja mengangkat tangannya ke atas, dia menarik energi alam di sekitarnya dengan fokus di atas seluruh jarinya. Kaja merenggangkan seluruh jarinya, dan energi pun mulai Nampak kecil sebiji kelereng berkumpul.

Kaja sedikit kesulitan membentuk cincin pengikat energi, itulah yang tersulit karena cincin pengikat itu adalah energi diri sendiri dan terus berputar menyeimbangkan energi alam yang terus berkumpul. Namun, Kaja akhirnya mampu melakukannya dan kini Noran yang terkaget melihat, energi alam yang terkumpul tak terkendali, pengikat semakin membesar dan  kini bahkan seperti bentuk Jupiter dan cincinnya, bola energi sekitar diameter 2 meter terbentuk. Kaja terlihat mulai kewalahan, dahinya berkerut dan dia pun membuka matanya seolah sadar dia tak bisa menahan terlalu besar lagi.

“JUPITER WIIIN”

DUAAAARRRR!!! DUAAAARRRR!!! DUAAAARRRR!!!
BRAAAAAKKKKK!!!

Sekali lagi, ledakan besar dan lebih besar dari pertama milik Noran, Noran pun terbelalak. Kaja turun dan terlihat sedikit berkeringat.

Noran tersenyum pada Kaja, “Bagus Kaja, kau sudah menguasainya.” Anak ajaib, selanjutnya kau harus bisa menjaga dirimu sendiri.

Keduanya tersenyum dan Noran meminta Kaja untuk pulang.

    *****

DUAAARRRR!!
Lima orang yang tengah dalam mobil dengan roda besar dalam perjalanan tersebut terkaget. Jalanan mulai masuk ke pelosok dan perbukitan yang jarang dilewati orang.
“Informasi itu benar! Lelaki tua itu disana,” Ucap Cukra Mamba, Pemimpin Aflif TRUE DEMON, Lelaki berewok tipi situ berkata kepada 4 rekannya, dia merasakan energi dahsyat dari Jupiter Wind, jurus yang sangat dikenal dari lelaki yang tengah mereka incar.
“Benar, itu jurus legendaris milik si Kakek Bonto,” Sahut Ruciko di sebelahnya, “Tapi sepertinya, mulai sekarang perjalanan kita harus dengan jalan, Mobil sudah tak bisa masuk.” Ketiga yang lain mengangguk.
Sepertinya mereka sadar, jika menggunakan energi mereka bisa sehari sampai, tapi jika bersantai maka mereka membutuhkan 3 hari perjalanan lagi.
Salah satu dari mereka, Sultan ikut nimbrung, “Dalam tugas perburuan ini, kita harus menangkap hidup-hidup Bonto, dan aku memastikan ada 4 Aflif yang bergerak, dan salah satunya adalah Tim Kita.”
Mamba pun tersenyum sambil turun dari Mobil, Menarik!

*****

Di sisi lain, dua grup Aflif tampak bertemu dan sepakat untuk melakukan perburuan bersama, menangkap hidup-hidup Bonto.
Aflif BUMI LANGIT (7 Orang) dan Aflif MAYAPADA (5 Orang) Dalam aturan Aflif, setiap orang bisa membentuk tim minimal 5 orang untuk memulai Job sebagai Aflif lalu bisa 7 atau 9 orang. Kedua tim Aflif ini sama-sama menyusuri tebing di lain sisi dan meninggalkan mobil mereka. Mereka sadar, tugas ini berat karena Bonto sudah menghilang sejak 10 tahun yang lalu, dia dulu adalah mantan anggota Aflif yang terkenal dan dulu berada di puncak Emas untuk kemampuannya.
“Kamu tahu apa yang disimpan Bonto sehingga kita harus mengejarnya?” Salah satu kelompok Aflif BUMI LANGIT bicara sambil terus berjalan.
Pemimpin Aflif MAYAPADA, Ranggi tersenyum, “Pasti karena benda Itu!”
Semua pun mendengar Ranggi dan terus berjalan.

DUUAARRRR DUAARRRR
Kedua Tim Aflif itu menyadari ledakan besar. Sepertinya, kita harus cepat. Siapa tahu dia sudah mendapatkan bocoran raid ini.

Selasa, 29 Oktober 2019

Bagian 31, Bersih - Bersih Desa


KTP-KTP terkumpul, kami menyalin biodata-biodata ke dalam blangko, beberapa yang lain bertugas mengambil KTP dari rumah-ke rumah, beberapa warga mengumpulkan langsung ke Kelurahan. Terkumpullah, KTP begitu banyak. Pak Lurah tersenyum puas.

Menjelang sore, pekerjaan kami selesai, kelelahan tampak terlihat dari wajah-wajah kami. Tangan gemetaran karena menulis demikian banyak biodata. Kang Mukhlis dan Pak Lurah pergi ke Kecamatan, menyetorkan biodata setelah dicap dan ditandatangani seluruhnya. Besok semoga sudah jadi walau belum seluruhnya.

Malam ini, semua relawan kembali ke rumah masing-masing, besok perjuangan akan dimulai kembali. Tapi, para relawan laki-laki menunggui sound system, dua orang pemuda datang membantu; Yanto dan satunya anak buah orgen tunggal Dendang Cinta, jiwa dangdutnya terpanggil karena musik dibunyikan bertalu-talu.

Malam harinya, delapan sound system dibunyikan lagu-lagu dangdut. Itulah keinginan tertinggi Bang Rizal, dia ingin semua penduduk Cahaya mendengarkan lagu-lagu dangdut kesayangannya. Di satu sisi, aku, walau tak suka mendengarkan lagu dangdut, tapi dengan suara dangdut ini, suara lolongan serigala dan bunyi burung gagak hitam tak akan kedengaran. Warga desa pasti lebih tenang.

Musik hanya berhenti saat shalat datang, Bang Rizal selain suka dangdut, dia rajin ibadah. Dia selalu teringat petuah raja dangdut, ’H. Rhoma Irama’ bahwa musik itu tujuannya juga untuk dakwah, jadi shalat adalah tetap utama. Dalam lubuk hatiku terdalam, aku salut pada Bang Rizal.

Malamnya, saat musik berbunyi keras, saat terpekur. Ada satu hal permasalahan lagi, membersihkan desa dari kotoran dan sampah, itulah pesan Ani. Tapi, bagaimana melakukannya? Kau tahu, Kawan, desa teramat kotor, selokan-selokan penuh sampah, air tersumbat, pantas saja nyamuk-nyamuk menyebarkan demam demikian cepat.

Anak-anak sekolah.
Benar! Aku dekati Bang Rizal, ”Bang, tugas kepahlawananmu belum selesai. Ada lagi yang harus kau lakukan!”
”Apa? Semalaman tak tidur menunggui dangdut, mengumumkan sesuatu sampai pagi? Apa?” antusiasmenya berlebihan, jangan kau ikuti yang satu ini. Obsesi pahlawan membuat orang menjadi berlebihan.

”Umumkan agar anak-anak sekolah besok datang ke sekolah. Mereka harus datang!”
”Beres!”

Tak terlalu lama kutunggu, suara dari sound system kembali menggelegar, musik mati.

Kepada anak-anak Sekolah Cahaya, saya Bang Rizal, besok sekolah masuk seperti biasa! Kalian harus datang, tak usah takut pada penyakit, karena telah kuusir semuanya dengan musik dangdutku! Kalian harus berangkat, mimpi kalian sedang menunggu.Terima kasih, tertanda Pak Danu Kepala Sekolah, tertanda seluruh dewan guru Sekolah Cahaya .”

***

Pagi menyapa desa Cahaya. Kami tunggu hingga pukul tujuh pagi. Satu orang siswa telah hadir, dialah Syahid. Kawan, sebenarnya ini tak perlu dibahas. Syahid memang tak takut dan dia diizinkan Kang Mukhlis. Aku hanya ingin membuatmu tidak tegang melihat keadaan desa Cahaya.

Pukul 07.10, seorang dari arah selatan datang dengan sepeda onthelnya yang dibeli dengan hasil franchise-nya yang bertambah tiap hari. Dia Hasan, lelaki kurus yang kini telah menulis menggunakan jari-jari kanannya. Tak ada lagi luka parutan baru di jarinya, tapi, luka lama pasti selalu menyisa, itulah bukti sebuah sejarah yang berubah karena mimpi.

Hasan turun dan menghampiriku, diciumnya tangan-tangan para guru yang berbaris di lapangan upacara bendera, Sang Merah Putih berkibar di tiangnya, semilir pelan angin mengibarkannya, menambah wibawa Indonesia.

Hasan berdiri di samping Syahid, berbaris di depan kami. Para dewan guru menunggu, satu-persatu siswa hadir hingga pukul 07.30, di barisan itu, setiap kelas telah ada perwakilannya. Kami tunggu hingga pukul 08.00, rata-rata tiap kelas yang hadir adalah setengahnya. Ini cukup bagus daripada kemarin, hanya Syahid saja.
”Apakah kita mau belajar, Pak Arif? Dengan murid demikian jumlahnya?” Pak Yusuf menatapku, Bu Siska juga.

”Bagaimana, Pak Arif? Kuserahkan padamu, kaulah yang mempunyai ide mengumpulkan mereka,” Pak Danu menimpali.

Aku mengangguk, maju ke depan. Aku berdiri menghadap para murid, tepat di posisi tengah mereka.
”Untuk kalian! Aku acungi jempol, kalian telah berani mendobrak ketakutan. Ini membuktikan bahwa kalian adalah siswa-siswa yang berani! Sekarang aku minta setiap kelas, membagi diri menjadi lima kelompok, harus rata. Berapa pun jumlahnya, dalam hitungan kesepuluh, semua harus segera beres!”

”Satu! Dua! Tiga! Empat...!

Siswa-siswa saling dorong, aku senang melihat keceriaan mereka kembali. Mungkin, sehari di rumah saja membuat karakter bermain mereka terpasung. Setiap barisan kelas, saling berebut, mungkin memilih-milih teman. Kubiarkan saja. Hatiku gembira, walau tak terpancar dari raut wajahku.
”Delapan! Sembilan! Sepuluh! Semuanya diam!”

Siswa yang masih belum terima dan masih mencari celah pindah, segera diam tak berdaya karena teriakanku. Sudah terbagi, walau mungkin ada yang dua orang satu kelompoknya.
”Baiklah, kelompok sebelah kanan adalah kelompok satu dari tiap-tiap kelas. Kelompok satu! Berbaris di depan Pak Danu, sekarang juga dalam hitungan ketiga, selesai! Satu! Dua! Tiga!” masing-masing kelompok satu yang kusebut, berlari dan berbaris di depan Pak Danu, masih ada yang terlihat bingung. Biar sajalah.

Kelompok kedua tiap-tiap kelas, berbaris di depan Pak Yusuf. Kelompok ketiga, berbaris di depan Bu Siska, kelompok keempat berbaris lurus di depanku.” Bu Ria? Dia masih sakit. Saat aku bingung hendak menempatkan kelompok kelima dimana, seorang berbaju putih, jilbab putih pula datang mengendarai sepedanya. Ani.

Aku terdiam, menunggu Ani yang masih berjalan ke arah kami. Saat dia dekat.
”Kelompok kelima, berbaris di depan petugas kesehatan, di depan Bu Ani yang memakai baju putih!” siswa-siswa kelompok kelima berhamburan, Bu Ani sempat bingung, tapi anggukanku cukup membuatnya menerima.

Aku berteriak lantang bahwa tugas kita adalah membersihkan desa. Kelompok satu dipimpin Pak Danu membersihkan sepanjang jalan ruas pertama dari selatan. Kelompok kedua dipimpin Pak Yusuf membersihkan ruas jalan utama, barisan rumah di depan Kang Mukhlis. Kelompok ketiga dipimpin Bu Siska, membersihkan ruas jalan ketiga dari selatan. Kelompok empat, aku pimpin untuk membersihkan ruas jalan keempat yang jalurnya arah utara selatan. Kelompok kelima, dipimpin Bu Ani membersihkan ruas terakhir, di samping ruasku. Ani membersihkan jalanan di depan rumahnya sepanjang jalur.

Kami berangkat membawa alat-alat kebersihan apa saja. Ani melepas baju putihnya, di dalamnya dia memakai baju panjangnya. Kulihat ada senyum tersungging kala memberi aba-aba jalan kepada para siswa.

Sebelum berangkat, aku berpesan bahwa barang siapa yang jalurnya paling bersih, maka ada hadiahnya. Jadilah semua siswa bersemangat, seperti lomba tujuh belasan saat ulang tahun kemerdekaan. Kami berangkat bagai pahlawan-pahlawan Indonesia saat berperang membebaskan penjajahan.

Di jalurku, para siswa begitu bersemangat. Aku turun ke selokan, parit, membersihkan plastik, sampah, rumput yang terlalu tinggi, bahkan kaleng-kaleng dibuang di sana. Jumlah personel yang banyak membuat  pekerjaan itu seakan ringan saja. Panas mulai menyengat, keringat bercucuran, tapi ada saja tawa renyah kala wajah terciprat lumpur. Semuanya tertawa, apalagi anak-anak, mereka paling senang bagian ini, Kawan.

Kukumpulkan sampah-sampah itu dalam kandi yang digelar di atas selokan, tapi tiba-tiba kandi itu telah menghilang. Kemana? Subhanallah, itulah kata-kata zikir pertamaku yang keluar dari lubuk hatiku terdalam. Sepanjang aku melihat dengan mataku, banyak lelaki perkasa dan ibu-ibu telah turun bersama kami. Sampah tadi juga telah digotong oleh dua orang pemuda, mereka turun, bagaikan seribu malaikat yang membantu Rasulullah Saw saat Perang Badar, begitulah cerita Kakek padaku dulu.

Air mataku hampir saja menetes, tak ada kesusahan jika mau mencoba. Lihatlah, mereka tersenyum padaku, kepala mereka mengangguk, mengacungkan jempol padaku. Wabah terkutuk, sama sekali tak membuat mereka takut lagi. Tanganku bergetar, aku semakin bersemangat segera mengambil sampah-sampah yang menumpuk tinggi.


”Pak, mana sampahnya lagi, kami akan membuangnya,” lelaki itu menaruh kandi di atas selokan, dia ikut turun bersamaku di parit, ”Mari kita angkat bersama-sama kotoran ini. Aku malu pada anak-anak yang rajin, sedangkan kami membiarkan saja sampah menggunung,” tangannya segera memunguti kotoran, sampah, rumput liar.

Bagian 30, Sound System Bang Rizal


Aku ke rumah Pak Karta, saat itu Indah tengah menyiram bunga. Aku turun dari sepeda bersama Syahid, seperti kata Kang Mukhlis, memang hanya sedikit orang yang tidak percaya wabah kutukan itu. Di antaranya adalah Pak Lurah sendiri yang selalu berpikir rasional, para guru dan Kang Mukhlis sendiri.

Indah memanggil ayahnya, kami akhirnya urun rembug, empat orang; aku, Syahid, Pak Karta dan Indah. Empat orang tentu lebih baik pemikirannya daripada hanya dua orang bukan?

Kami membicarakan bagaimana menyelesaikan kasus ini, yaitu mengecek berapa orang warga yang telah terjangkit penyakit, kemudian yang kedua adalah membuatkan kartu jaminan kesehatan masyarakat. Baru saja kami mulai berembuk, rombongan guru Sekolah Cahaya datang dan bergabung, semakin lengkaplah.

Para guru tentu saja gelisah, bagaimana tidak. Mereka berangkat ke sekolah, tak satu pun ada siswa yang datang. Isu yang menyebar lebih terasa bebannya daripada penyakit itu sendiri.

Kami membagi kelompok relawan menjadi dua. Aku, Pak Yusuf, Pak Lurah, bertugas membuatkan masyarakat surat jaminan kesehatan dengan mencatat data penduduk desa. Bu Siska, Pak Danu, Indah, Syahid bertugas memeriksa warga desa yang sakit, tapi mereka harus menjemput Ani dulu.

Saat kami siap-siap berangkat, seorang lelaki datang sambil menenteng golok dalam ikat pinggangnya, ”Apa kalian pikir aku tidak diikutsertakan?” dialah Kang Mukhlis, sang jawara telah kembali memakai golok, pertanda siap menjalankan tugas.

Kang Mukhlis bergabung dengan kelompok yang akan membawa Ani, memeriksa warga desa yang sakit. Saat itu pula, kami berangkat. Kelompok pertama, mencari, mengambil blangko di kantor kelurahan, sedangkan kelompok kedua menjemput Ani, Kang Muklis bertindak sebagai bodyguard, jikalau ada perusuh. Suasana sangat mencekam kawan, sepi, para rampok dan pencuri bisa beraksi pula di siang hari. Dalam situasi seperti ini, tak ada penduduk yang berani keluar jauh dari rumah. Mungkin, kalau kambingnya dicuri dari kandangnya; jikalau hilang tak akan ketahuan, jikalau ketahuan mungkin si pemilik hanya berteriak dan tidak akan ada yang menolong dalam kondisi mencekam seperti ini.

Di kelompok pertama, kami telah menemukan blangko pengisiannya. Sudah sedikit terkena debu, pertama kami mengumumkannya lewat pengeras suara di masjid, juga seluruh mushala dan langgar yang ada, Pak Lukmanlah yang mengumumkannya di masjid.

Lelaki buta itu mencegahku sejenak, sebelum aku kembali ke kelurahan.
”Berjuanglah, Pak Arif! Karena untuk itulah Allah mengutusmu ke sini,” aku tak tahu maksudnya. Tapi, aku tak takut lagi padanya, dulu, kupikir mungkin karena obsesi yang terlalu tinggi, karena aku memberinya kurma dan kuambil bijinya.

Kami menunggu di kelurahan hingga satu jam lebih, tak ada yang datang.
”Percuma, dulu, beberapa tahun yang lalu cara ini tak berhasil,” Pak Lurah menerangkan,” Itulah sebabnya, aku merasa kasihan pada Ani, dia mahasiswi terbaik, pulang ke desa untuk membaktikan dirinya, berjanji, tapi tak ada yang menghargainya. Bahkan dia bersedia tanpa bayaran. Beberapa panggilan datang lagi, agar dia bekerja di kota, tapi katanya lebih baik jadi petani daripada menjadi perawat bukan di desanya,” Pak Lurah menunduk.

”Bagaimana kalau kita datangi rumah mereka satu-persatu?” aku coba mengusulkan.
”Baiklah, harus dicoba,” Pak Yusuf membelaku.

Kami berangkat, kawan jika kau tahu maka sebenarnya tak akan selesai semudah yang dipikirkan, satu-persatu rumah. Tapi, hanya ini sementara langkah kami. Kami mulai dari perbatasan desa di sebelah barat, di barisan ruas paling selatan.

Rumah pertama, saat kami datang tak mau sedikit pun membuka pintunya, walau Pak Lurah sendiri telah memperkenalkan dirinya. Mereka sangat takut, tentang wabah kutukan, angin yang berhembus dari luar rumah adalah penyebab wabah itu menular. Pak Lurah sampai mengatakan bahwa kami sehat-sehat saja berada di luar. Dalih mereka selanjutnya, karena Pak Lurah mempunyai aji penangkal karena pernah berguru silat, sedang mereka sama sekali tak punya ajian.

Rumah kedua, ketiga, keempat, kelima semuanya sebenarnya menerima kami, tapi tak ada yang percaya dengan hukum kesehatan modern. Animisme masih menguasai isi otak mereka, daripada percaya dengan perkembangan pengobatan yang ada. Pak Lurah mulai putus asa, kami kembali ke Kelurahan untuk menyusun strategi baru. Aku kehabisan akal, Pak Yusuf terlihat bingung.
”Inilah realitas penduduk desa Cahaya,” Pak Yusuf menatapku, ”Di sinilah aku dilahirkan, aku ingin mengubah dogma khurafat, tapi siapalah aku ini?”

Rombongan kedua datang ke kelurahan, Ani memakai baju putih kebesarannya. Kami berkumpul kembali, Ani menjelaskan bahwa masyarakat yang sakit, beberapa tidak mau diperiksa. Tapi, ada beberapa yang berhasil dibujuk dengan kemampuan lobi-lobi Pak Danu, di antaranya Bu Ria ternyata terkena indikasi demam berdarah. Yang lain demam biasa, tapi jika tidak segera diberi perawatan akan menjadi parah.

Kulihat dari wajah Ani yang lelah, sambil menjelaskan. Wajah itu tampak gembira, keahliannya digunakan di desa Cahaya, walau waktunya tak tepat, walau sedikit memaksa.
”Bagaimana sekarang?” Pak Lurah kini yang bicara.

Semuanya tampak berpikir.
”Apakah di desa ini ada yang memiliki sound system yang besar, bisa menjangkau seluruh desa?”
”Untuk apa, Pak Arif?” Pak Yusuf menatapku.

”Kita harus punya pengeras suara yang bisa didengar di seantaro desa, kita juga akan mudah koordinasi di antara kelompok.”
”Ada, di rumah Bang Rizal, pemilik orgen tunggal Dendang Cinta.”
Tanpa dikomando terlalu lama, aku, Pak Danu, Pak Yusuf dan Pak Lurah berangkat membawa gerobak besar. Kami datangi Bang Rizal, dia tengah duduk di depan rumahnya, rumahnya sangat jauh di ujung bagian timur. Ternyata masih ada orang yang tidak takut wabah itu, buktinya Bang Rizal santai sambil makan singkong goreng.

”Kenapa takut penyakit? Kalau mati ya mati saja,” jawab Bang Rizal santai.
Pak Lurah menyampaikan maksud kami datang, sekaligus jika bersedia Bang Rizal untuk membantu mengoperasikan sound system-nya.

”Apa untungnya bagiku?”
”Pahlawan desa Cahaya, itu akan  melekat di pundakmu sampai tujuh keturunanmu,” kata-kata Pak Lurah, orang nomor satu di desa, bukanlah main-main.
”Baiklah. Pahlawan telah datang, ayo kita angkut salon-nya.”

Kami menaikkan delapan buah sound system itu, mendorongnya dan menurunkannya di kantor kelurahan, memasangnya dalam dua tumpukan. Bang Rizal menata, memasang kabel-kabel, mencobanya. Bunyinya keras, tetangga desa pun pasti mendengarnya.

”Bunyikan sekeras-kerasnya, lagu apa saja, musik apa saja. Terserah Bang Rizal. Orang-orang desa harus sudah sadar sekarang,” aku menatap Bang Rizal.
Pak Lurah menatap Bang Rizal pula dan mengangguk meyakinkan, ”Untuk hal ini, kaulah pahlawannya, Rizal.”

”Baiklah, ini memang keahlianku!” Bang Rizal dengan senang hati, senyumnya terukir, dia memasukkan kaset, mengatur soundnya. Musik bersuara keras membahana seluruh desa Cahaya, musik itu adalah lagu dangdut kesukaannya, lagu-lagu yang dinyanyikan Elvi Sukaesih. Kawan, seumur-umur sebenarnya baru kali ini aku mendengarkan musik dangdut, kunikmati saja.”

Kelompok dibagi dua lagi. Satu kelompok mendatangi warga, dengan suara dangdut diharapkan penduduk berani keluar rumah, biasanya musik adalah panggilan jiwa bagi para pencinta musik.
”Ani, bisakah surat jaminan itu jadi dalam waktu sehari?” aku sedikit mengeraskan suaraku, karena musik yang keras.

”Minimal besok, jika hari ini kelar biodatanya.”
”Lalu yang sakit tadi, apakah sudah ada biodatanya.”
”Aku sudah bawa KTP-KTP mereka,” Ani menunjukkan beberapa KTP.
”KTP?”
”Iya, KTP.”

”Kenapa tidak terpikirkan?” aku dekati Bang Rizal, memintanya menghentikan musik. Kuminta dia mengumumkan berulang-ulang, bahwa masyarakat diharapkan menyerahkan KTP-KTP mereka, kutambahkan sedikit bumbu bahwa akan ada bantuan dari Pemerintah. Sebenarnya aku tak bohong kawan, jika dijelaskan bantuannya berupa diringankan biaya berobatnya, subsidi kesehatan, bukankah itu juga bantuan?

Bang Rizal mengangguk gembira, lalu, dari kedelapan sound system itu terdengar pengumuman berulang-ulang:


Kepada masyarakat desa Cahaya, saya Bang Rizal, mohon menyerahkan KTP-KTP kalian kepada petugas kelurahan yang datang ke rumah-rumah, karena akan ada bantuan dari Pemerintah untuk desa Cahaya. Jika tak menyerahkan KTP, tak akan dapat bantuan. Terima kasih, tertanda Pak Karta, Lurah Cahaya.”

Bagian 29, Tahu Apa Kau Tentang Profesiku?


”Desa Cahaya sangat membutuhkanmu saat ini.”
Ani terdiam, matanya menyorot sela antara kepalaku dan Syahid, tembus hingga jendela transparan, memandang pepohonan di sepanjang panorama. Melihat semilir angin menggerakkan daun-daunan, serta sayur-mayur dan helai daun singkong.

”Kenapa kau berpikir bahwa desa Cahaya membutuhkanku?”

”Tidak ada orang lain lagi di sini, di desa ini yang memahami tentang kesehatan melebihi dirimu. Kau lulusan keperawatan, kau bisa menjelaskan dan mengidentifikasi penyakit yang mewabah, bukan karena kutukan yang meracuni pikiran orang-orang desa. Untuk hal ini, kaulah pahlawannya.”

Satu kata yang kuharapkan dari bibirnya, dari sorot matanya yang tak jelas ke mana arah pandangnya, dari kewibawaannya, dari semua diamnya, dari sikap ketegapannya. Satu kata saja: bersedia! Bersedia untuk bekerja sama.

”Sok pahlawan! Aku muak dengan kata itu. Apalagi kabar tentang kepahlawananmu!”
”Apa maksudmu? Ini tidak ada hubungannya dengan pahlawan atau bukan, ini tidak ada hubungannya dengan pujian atau bukan. Ini adalah nasib yang harus diperjuangkan desa Cahaya,” belum pernah rasanya aku bersemangat demikian gencar, entahlah, aku tiba-tiba ingin memperjuangkan prinsip.

”Kau lihatlah dirimu, Pak Arif! Sungguh naif! Kau bukan lahir di sini, kau bukan anak desa ini, kau bahkan seperti tiba-tiba datang dan mengacau. Begitu hebatnya kau mengatakan kemajuan desa? Ironis sekali, sedangkan banyak yang lahir di sini, merasa nyaman saja dengan kondisi yang ada.”
”Apa maksud Anda?”

”Aku ingin tahu, kenapa kau ngotot memperjuangkan sebuah desa. Desa yang jauh dari kemajuan dan terjebak dalam kebodohannya? Jawablah pertanyaanku ini, Pak Guru?”
”Panggilan hati! Jika hati yang bicara, seluruh malaikat yang ada tak akan bisa menahannya, seluruh dunia dikumpulkan untuk menggoyahkannya tentu tak akan bisa, kecuali yang menghentikannya adalah Pemilik kehidupan ini.”

”Kau pintar bicara Pak Guru.”
”Kau pikir aku mengarang retorika? Lalu, bagaimana dengan kau sendiri, apa yang telah kau lakukan? Apakah kau lupa janjimu pada almarhum Bu Fitri, ibunda Syahid? Kau lupa cita-citamu dulu? Bahwa kau akan menjadi dokter di desa ini?” aku tahu cerita ini dari kang Mukhlis.
”Jangan ungkit-ungkit itu lagi Pak Arif, aku peringatkan pada Anda.”

Hening. Padahal, aku hanya memancingnya agar ingat salah satu memorinya, tentang janjinya pada ibunda Syahid, karena mereka adalah sepupu, dari ibunda Syahidlah Ani belajar banyak hal. Jadi, dalam kamus Ani, salah satu tokoh yang masuk dalam daftarnya adalah Ibunda Syahid.

”Baiklah, aku tak mengungkit itu lagi. Tapi, lihatlah hanya karena isu wabah aneh itu, seluruh murid tak sekolah. Mau jadi apa mereka di masa depan? Apakah Anda tak kasihan pada mimpi-mimpi mereka? Di antara mereka ada yang ingin jadi dokter, apa kau tega membiarkannya? Bukankah dokter adalah profesi yang mulia?”

”Tahu apa kau tentang profesi kesehatan!”
”Aku tidak tahu! yang aku tahu, jika kita punya kemampuan lalu ditinggalkan dan lari dari kemampuan itu, padahal banyak yang membutuhkan, berarti dia adalah seorang pengecut...”

”Plak!”

Sebuah tamparan membuat wajahku melencong ke kanan. Kawan, panas sekali. Satu pelajaran penting untukmu, jangan main-main dengan wanita. Beginilah akibatnya, tak kukira wanita yang terlihat tenang itu menghanyutkan. Apa kata-kataku ada yang salah, Kawan?

”Kau pikir aku pengecut? Kau tak tahu, aku telah setahun lengkap membaktikan diriku menjadi penjaga kesehatan di Cahaya, selesai kuselesaikan program D3-ku, aku tak ambil semua tawaran, karena ingin kupenuhi desa dengan baktiku. Saat itu, aku sendiri berjuang. Tak ada yang datang sekadar mengecek kesehatan. Bahkan, kutawarkan dari rumah ke rumah, tapi tak ada yang menanggapi.

Setiap hari kutunggu di rumahku, jikalau ada yang sekadar konsultasi kesehatan. Bukankah telah kau lihat ibuku sendiri, tak memercayai kesehatan yang kupelajari di bangku kuliah? Hingga aku memutuskan menjadi petani sayur, karena aku tak akan menjadi perawat di kota atau di daerah lain, kalau aku tak bisa menjadi perawat di Cahaya. Kini, saat penyakit menjangkit, kau berkata seolah kaulah pahlawan? Jika kau tahu, hatiku lebih sakit. Kau sebut aku pengecut! Hari ini pun, tak akan ada yang percaya tentang kesehatan. Karena itu, pulanglah dan jadilah seorang guru yang baik! Dan maaf atas tamparan tadi.” Ani berdiri tegap, sempurna hendak melangkah.

”Jikalau warga desa meminta bantuan padamu, apakah kau akan kembali mengenakan baju kebesaranmu?” Kawan, nadaku kali ini kupelankan, bahkan sangat pelan. Ini adalah usaha terakhirku.
Semilir angin masuk melalui celah lubang di atas jendela, teramat sejuk.

Syahid memegang pergelangan tanganku, saat aku hendak meneruskan kata-kataku, ”Mbak Ani, kali ini aku yang memohon. Berkenanlah untuk membantu desa ini, ini adalah permintaanku dan Ayah, serta seluruh penghuni Cahaya.”

Wanita itu menoleh, ada air mata yang berkaca di pelupuk matanya, “Baiklah, insya Allah aku akan berusaha semampuku, Hid.”
Alhamdulillah. Walau tak mengatakan bersedia, kata-kata itu sudah cukup bagi kami.
”Menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ani duduk kembali.
”Buatlah kartu peserta jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS), itulah pertama yang harus dilakukan.  Dulu, tak satu pun mau mengisi blangkonya. Kartu itu untuk keringanan biaya, jika ada yang sakit dan berobat ke Rumah Sakit maupun Puskesmas. Dari situ akan kulihat kesungguhan kalian.”

”Kalau begitu akan aku diskusikan dengan Pak Lurah segera. Selain itu, apa yang bisa kita lakukan?”
”Bersihkan desa, sampah menumpuk, kebersihan tak terurus adalah akar semua penyakit. Makanya, kebersihan adalah sebagian dari iman.”

Kami kaget, pembicaraan terhenti, terdengar deruman memekakkan telinga. Dan di luar sana, dari balik kaca rumah, lima orang tengah mengeraskan suara motornya. Geng Sar, mereka tertawa, raut wajah ingin melumat. Bahaya, Kawan.

”Waktumu sudah habis, Pak Guru! Keluarlah pahlawan edan! Sudah kutunggu waktu ini, kalau penduduk desa tak mau keluar membantumu lagi. Tak ada yang menolongmu, keluar! Atau kubakar rumah ini!”

Ibunda Ani keluar dan kebingungan, Ani gelisah, aku menenangkannya. Mataku mengedip pada Syahid, semoga dia paham isyaratku, kau lewat belakang, ambil sepeda dan siap-siap, aku urus mereka dulu. Syahid mengangguk.

Aku mendekati pintu, hendak membukanya.

”Berhati-hatilah,” kutengok suara itu, wajah Ani tampak khawatir. Aku tersenyum, baru kali ini kudengar nada suaranya tampak perhatian, mirip karakter seorang perawat yang membawa ketenangan. Kurasa, mental perawat, mental penjaga kesehatan telah kembali sepenuhnya.
”Tenang saja, jika aku harus mati sudah ada yang meneruskan perjuanganku kembali. Seorang pahlawan telah lahir kembali,” aku tersenyum padanya.

Kubuka pintu rumah, kututup pelan, aku mendekati mereka berlima. Mereka berlima, turun dari motor-motor mereka.

”Berani juga sang pahlawan kampung kita ini!” mereka tertawa terbahak-bahak. Tanganku mulai gatal kawan, aku ingin membalas kejadian tempo pertama aku datang ke Cahaya, perutku saat itu kosong. Berbulan-bulan ini, latihan yang diajarkan Kang Mukhlis harus minimal dilihat sampai mana kemampuannya.

”Sikat!” itu pasti Sarjito, ketua Geng Sar. Dua orang mengarahkan tinjunya, menyerang bersamaan, saat itu kulihat kelebat Syahid telah mencapai sepeda. Cepatlah Hid! Kutangkap salah satu tangan mereka, aku berputar dan memelintir tangan itu cepat, kakiku refleks menendang pukulan seorang yang lain, dan tubuh itu limbung. Lelaki yang masih kupelintir tangannya, kupukul tengkuk lehernya, dia terjatuh ke tanah.

Satu orang datang lagi dengan tendangannya. Saat tendangan kaki kanannya mengarah padaku, aku menjatuhkan diri ke bawah, kutendang kaki kirinya dari belakang, dia terjungkal ke belakang, aku melompatinya dan menyongsong dengan tendangan baru, ke arah orang keempat yang hendak menyerang, tendangan lurus, tepat di dadanya.

Sang Ketua mengkal, aku mengayunkan kepalan tanganku padanya. Apa? Dia bukan berusaha menghindar, malah menutupi wajahnya sambil berteriak dengan kedua tangannya, dasar penakut!

Tapi, bukan itu tujuanku. Aku berlari ke arah Syahid yang telah mendirikan sepeda, aku langsung mengambil kemudi, Syahid naik, kukayuh dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Geng Sar mengkal, mereka mengambil motornya masing-masing, bisa-bisa terkejar, apalagi  penduduk desa tak berani keluar. Sial juga agaknya hari ini, harus berhadapan lagi dengan mereka jika sampai terkejar.
Motor mereka tak bisa distarter, macet. Kami lumayan jauh.

”Aku copot busi-busi motor mereka.”
Ternyata isyaratku dibaca lebih olehnya, anak yang pintar.

”Tapi, jika mereka tahu. Mereka akan memasangnya dan bisa menyusul kita. Itu adalah kabar buruknya!”

Benar saja, motor menderu terdengar. Mulai dekat, sudah mulai terlihat di spion sepeda yang dipasang Kang Mukhlis. Ah! Harus berurusan lagi dengan mereka. Mereka semakin dekat, bagaimana turunnya? Kita pasti ditabrak. Harus cari belokan. Yap! Di depan, ada belokan, masih 50 meter. Kutambah kecepatan.

Telat! Tak ada waktu lagi, saat jarak dengan belokan tinggal sepuluh meter, jarak motor-motor mereka kutaksir juga 10 meter. Jika melihat hukum kecepatan, maka kami pasti kalah, hanya doa kini yang kupanjatkan. Allah, bantulah kami.

Sepersekian detik, kala tadi masih kudengar tawa mereka terbahak-bahak sambil bersiap melumat kami dengan motor-motor mereka. Keajaiban terjadi, sedikit lagi, dan motor mereka macet semua, berhenti begitu saja. Kami melaju meninggalkan mereka jauh, motor mereka miring dan terjatuh. Terlihat dari jauh, mereka mengkal setengah mati dan menendangi motor-motor mereka.
”Allah menolong kita, Hid.”

”Selain kucopot sambungan busi, aku juga memutus selang bensin ke mesin mereka. Allah menolong tepat pada waktunya.”
Aku kaget. Anak ini? Ternyata isyaratku dibaca lebih olehnya, anak yang pintar. Kawan, jangan kau remehkan kemampuan manusia, sekecil apa pun. Bisa jadi, kecil itulah  yang membuat manusia mulia.

”Dari mana kau belajar secepat itu?”


”Pak Arif lupa gelar yang disematkan pada Hasan? MoM, Master of Machine, dia adalah temanku, aku juga belajar darinya,” amat bangganya dia mengatakan itu, dan aku tersenyum, menatap langit biru yang tertutupi pohon-pohon menjulang, sela-selanya seolah menyapu desa ini dengan cahaya.

Bagian 28, Ani


Jika kuceritakan padamu, Kawan, mungkin kau tak percaya. Tapi, inilah yang terjadi, seluruh desa tampak lengang. Orang lewat tak terlihat, orang ke sawah seolah libur, anak ke sekolah apalagi, orang hendak mencari ikan di sungai tak ada berduyun-duyun membawa jaring seperti biasa. Seluruh pintu tertutup rapat, aku berkeliling bersama Syahid, dan gambaran itulah yang kami ketahui.

Setelah pasti, seperti gambaran yang diberikan Kang Mukhlis, satu langkah kami selanjutnya menemukan wanita lulusan D3 keperawatan, yang beralih profesi menjadi petani sayur-sayuran dan singkong, bertahun-tahun lamanya. Namanya Ani Susanti, dia adalah lulusan terbaik satu angkatannya dua tingkat sekolahnya dengan ibunya Syahid, tawaran dari dinas kesehatan kota tempatnya kuliah ditolaknya, tawaran di beberapa rumah sakit swasta juga ditolaknya. Sayang beribu sayang, di desa, dia ditelantarkan.

Desa Cahaya mempunyai tiga ruas membentang timur-barat. Dua ruas yang berlawanan arah yaitu utara-selatan, tempatku tinggal di rumah Kang Mukhlis adalah jalan utamanya, ruas kedua timur-barat dari arah selatan, satu ruas lagi sebelah utara, sehingga kedua ruas lainnya berada di sebelah utara dan membentang lurus ke arah utara. Rumah Ani, di perawat itu adalah ruas sebelah kiri yang menjulang ke arah utara.

Kukayuh sepeda, jalanan onderlaag tapi lebih tajam dari jalan utama. Tak ada orang lewat, hanya sesekali kulihat orang keluar rumah, tapi segera masuk kembali. Inikah kegelapan? Syahid kubonceng di belakang sekaligus penunjuk jalan, melewati ladang-ladang yang rimbun di pinggir-pinggir jalan, terlihat jalanan ini jarang dilewati kecuali oleh para peladang. Jarak rumah lebih renggang jauh dari ruas jalan utama.

Angin siang hari bagai malam senyap, bukan karena dingin melainkan karena ketegangan. Seluruh pintu rumah yang kami lewati, tak ada yang terbuka. Sebegini kuat ternyata persepsi masyarakat tentang penyakit kutukan ini.

Tibalah kami di ujung perbatasan desa dengan ladang yang bagai lautan pandangan, rumah terakhir. Syahid menganggukkan kepalanya, inilah rumah perawat yang terbuang itu.

Rumah mungil nan indah, bunga-bunga indah berjejaran di rak-rak kayu yang tersusun beberapa tingkat, lekat dengan tembok depan, di bawah jendela, dekat pintu masuk. Simfoni segar, seperti danau penuh liarnya bunga, aroma wangi tercium dari jarak 20 meter, di tempat kami turun dari sepeda, di pinggir jalan.

Seorang di samping rumah, tepatnya di kebun atau ladang, antara jalan raya, hingga jauh sampai belakang. Di tengah-tengahnya, seorang wanita tengah memakai caping anyaman bambu, membawa tas besar, memanen cabai. Aneka rupa sayuran terlihat indah dan subur; kacang panjang, kacang buncis, terong, cabai, tomat, bayam. Tersusun demikian rapi, daun-daunnya hijau segar, tanda siraman air dan pupuknya sesuai.

Wanita itu amat telaten, memetik cabai, dipilihnya yang telah tua. Aku sendiri tak tahu yang tua yang seperti apa. Naluri si wanita seolah terpanggil, memanen yang kulihat saat ini bagai panggilan hati. Mungkin jodoh juga serupa itu, walau seorang lelaki dijodohkan pada wanita yang kaya dan cantik, kalau hatinya tak terpanggil, tak cocok,  ya tidak jadi.

Seperti memanen cabai, jika hatinya sreg, maka jadilah si cabai dipetiknya. Wanita itu menyamping dari arah kami, di balik capingnya, jilbabnya terkibar angin semilir, wajahnya separuh terlihat tampak putih kemerah-merahan, panas matahari menyilaukan pandangan. Dia memakai celana panjang, mungkin untuk mempermudah melewati sela tanaman.

”Ayo, Pak.”
Kami berjalan maju ke rumah, sambil menuntun sepeda. Kuucapkan salam, wanita itu menjawab salam, menoleh ke arah kami, membawa hasil panennya dan mendekati kami.

Terlihatlah wajah itu, tak dinyana oleh pikiranku. Kupikir wanita petani rata-rata, kulitnya pasti hitam ditambah kotor. Tidak  kawan, aku salah! Kulit wajahnya bersih, hanya memang jejak hitam panas sedikit menutupi, tapi wajah itu tampak indah mendekati kami.

”Ada tamu rupanya,” senyumnya merekah.
”Saya mencari Ani, apakah dia ada?”
Wanita itu menatapku sejenak, dia keluar dari kebunnya. Melewati kami, meraih gagang pintu, ”Ibu! Tolong bukakan pintunya, ini aku yang masuk.”

Pintu terbuka, seorang wanita paruh baya berkeriput keluar rumah, ”Cepat masuk! Wabah kutukan akan tersebar. Kau juga pakai menantang maut!” ada nada kesal dari raut tua itu. Wanita tua itu melirik kami, dia  heran dan sorot matanya seolah tak membolehkan kami berkunjung, Kalian bertamu tidak pada saat yang tepat.

”Masuklah ke dalam dulu,” wanita si pemetik cabai menoleh sejenak.
”Kamu yakin tidak apa-apa,” ada kekhawatiran dari wajah si tua.
”Tidak apa-apa, Bu, mereka sehat semua.”       
”Tapi kamu tidak kenal mereka, bukan?”

”Kenal, salah satu dari mereka adalah anaknya Kang Mukhlis.”
”Ya sudah, tapi jangan lama-lama.”

Si wanita muda melepas capingnya, dan memberi isyarat pada kami untuk masuk. Aku mulai mafhum dengan keadaan tentang wabah kutukan itu, lalu, bagaimana Sekolah Cahaya bisa berjalan lagi, kalau seluruh orangtua tidak mengizinkan anak-anaknya sekolah?

Wanita itu keluar, wajahnya cerah, kelihatan habis cuci muka. Kawan, ternyata di ujung desa Cahaya ada wanita secantik ini. Sungguh, dia tak kalah dengan bunga desa anaknya pak lurah, walau usianya lebih tua.

”Sudah lama, rumah ini tak ada kunjungan tamu satu pun. Dan kau Hid, dulu kau sering main ke sini bersama ibumu. Saat kau masih balita,” wanita itu tersenyum menatap Syahid, seolah ada kata yang ingin diungkapkan lagi.

”Satu lagi. Kau orang asing, bukan asli penduduk desa Cahaya. Kau pasti Arif Maulana, guru baru yang banyak tingkah. Namamu banyak dibicarakan di desa, berhati-hatilah.”
”Saya ingin bertemu Ani, aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Apakah dia ada?” aku tak sabar.


Wanita itu menatapku tajam, ”Aku adalah Ani. Ada apa mencariku?”

Bagian 27, Kutukan


Malam indah desa Cahaya, bertabur bintang, ditingkahi semua bunyi hewan malam saling sahut-menyahut. Gelap dan sepinya desa tergantikan dengan semaraknya bunyi alam; angin dan berupa-rupa suara hewan.

Jurus-jurus pencak silat yang kupelajari dari Kang Mukhlis demikian pesat, begitu katanya. Dalam ilmu bela diri yang peling penting adalah refleks, mata yang cekatan, gerakan yang cepat dalam berkelit dan menghindar, lalu menyentak dengan kejutan, serangan yang tiba-tiba. Untuk pengembangan refleks gerak, pengembangannya adalah latihan, sering latihan. Itulah kunci sukses, ketekunan belajar.

Latihan terus-menerus akan membentuk karakter gerak, seperti kebiasaan yang terus-menerus maka akan menjadi karakter sifatnya, menjadi akhlaknya. Malam ini, kami berlima, kini Kang Mukhlis menambah dua murid baru, Hasan ikut latihan, dia tak terlalu repot lagi dengan urusan parutnya, dia bisa bersantai lebih banyak untuk belajar, dan mengembangkan setiap potensinya, satunya adalah pemuda desa bernama Yanto.

Kang Mukhlis berlatih sendiri, aku mengajari Yanto jurus-jurus dasar, sedangkan Syahid mengajari Hasan jurus-jurus dasar pula.

Oya, satu lagi yang kulupa. Kini Hasan memeliki gelar baru, dilekatkan di belakang namanya, seperti lekatnya pangkat di pundak seorang perwira yang naik pangkat. Gelarnya adalah Hasan MoM, Master of Machine. Siapa pun yang akan membuat mesin parut, harus berbagi hasil dengan Hasan, sejenis franchise.

Satu hal memang yang paling berat, tahu cara yang pertama adalah pemenang. Tak berarti meniru itu salah, melainkan pelajaran agar kitalah penemu. Agar nama harum, didoakan sebagai orang yang berguna, diceritakan kepada anak-cucu sebagai teladan, penyemangat kehidupan selanjutnya. Siapa tak ingin?

Kami berlatih hingga kelelahan mencapai seluruh organ. Kami istirahat, menyelonjorkan kaki-kaki. Yanto dan Hasan telah dari tadi beristirahat, selanjutnya aku dan Syahid menyusul. Kami duduk di tengah lapangan, menghilangkan keringat yang menembus kain baju. Kang Mukhlis masih berlatih, tentu saja, sang jawara lebih bertahan lama.

Saat menikmati gemerlap bintang yang terlihat indah, tiba-tiba saja angin bertiup lebih kencang, mendung  yang tergulung angin seolah menciptakan gurat gelap di atas sana. Kang Mukhlis menghentikan latihannya, pandangan matanya tertuju pada hutan lindung, matanya teramat kuat seolah menelusup ke dalam rimba hutan.

Aku, Hasan dan Syahid terdiam. Satu hal yang membuat kami merinding, seluruh suara hewan malam yang semula berpesta tiba-tiba hening. Jangkrik kembali mengatupkan sayapnya dan kembali ke lubangnya, sejenak suara monyet berteriak-teriak seolah ketakutan, lalu hilang tanpa ada sedikit pun suara. Persis di sebuah ruangan kedap suara, satu gesekan, tengokan kepala, gerakan alis, denyut nadi seolah terdengar. Maksudku adalah teramat sunyi, Kawan.

Suara lolongan panjang anjing hutan terdengar, seolah menyentuh pundak, berdirilah bulu kuduk yang mendengarnya, gemetaran karena bunyi yang beda dari biasa. Suara itu teramat dekat, berasal dari hutan. Hingga mata kami semua tertuju ke hutan, misteri apalagi ini?

Semenit setelah mata kami semua tertuju ke langit di atas hutan, sekelebat burung hitam terbang membunyikan suaranya, ’Kwak! Kwak!” bukan satu kawan, tapi menyusul beberapa burung gagak lagi, dan menyenandungkan lagu kematiannya, bulu kudukku berdiri. Aku sedikit tahu, gagak adalah burung yang sering ditafsirkan sebagai pertanda buruk.

”Gagak hitam!”
Suara itu berasal dari Kang Mukhlis, tatapannya tetap ke langit, tapi dari nada suaranya tersirat sebuah kebencian mendalam. Kurasa tak lazim.

”A..apa, tidak mungkin!” Yanto tampak gugup.
Aku, Hasan dan Syahid kebingungan melihat ekspresi Yanto.
”Memangnya kenapa jika gagak hitam?” aku penasaran.

Kang Mukhlis masih diam, kedua tangannya mengepal kuat, gigi gerahamnya seolah saling menekan, suara gemeretak terdengar. Yanto yang ketakutan menjelaskan terbata-bata bahwa kejadian buruk akan terulang lagi.

Sepuluh tahun yang lalu kurang lebih. Burung gagak hitam adalah pertanda munculnya malapetaka, penyakit menyebar ganas, mengamuknya binatang buas yang menewaskan beberapa warga, banyak juga yang hilang diperkirakan dibawa penghuni hutan lindung dari roh-roh nenek moyang. Saat itu, Yanto masih belasan tahun, kejadian yang amat menyeramkan.

”Aku tak mau mengingatnya, kejadian itu sudah lama. Kenapa harus terulang kembali?” Hasan dan Syahid memegangi tanganku. Tapi Kang Mukhlis, dia terpaku. Ada sorot mata yang tak bisa kutafsirkan.

”Semoga saja, tak ada penduduk yang melihat gagak-gagak hitam itu atau mendengarkan suaranya? Jika mendengarnya, desa bisa gempar,” Yanto berkata penuh harap.
”Iya, ini sudah larut. Tentu, penduduk sudah lelap. Semuanya akan berakhir tanpa perlu risau bukan?” aku mencoba menenangkan suasana.

”Kamu salah.”
”Kenapa, Kang?”
”Apa kau tak lihat kejadian siang tadi! Penduduk pasti sudah menyadarinya.”

Kejadian tadi siang? Memang, sewaktu sekolah tadi ada kejadian ganjil hingga seluruh siswa Sekolah Cahaya keluar walau saat itu masih jam masuk. Tiga ekor kijang hutan masuk desa, ketiganya berlarian dan seekor lagi berada di depan sekolah. Masyarakat memburu, hingga siswa-siswa ikut memburunya. Tapi, apa hubungannya dengan burung gagak hitam?

”Masyarakat percaya, jika hewan-hewan telah keluar hutan tandanya danyang penunggu hutan lindung akan meminta korban, penyakit akan menyebar bagai wabah. Seandainya aku bisa berbuat sesuatu,” Kang Mukhlis terlihat kecewa, geraham-gerahamnya kembali bertemu.

Kepercayaan terhadap hal-hal gaib di desa Cahaya masih kental. Itulah yang sering diceritakan Syahid. Ketika menghadapi bulan baru atau hari tertentu, mereka masih membuat sesajian di tempat-tempat keramat agar musibah tak menerpa, atau setiap tahun mereka mengorbankan kepala kambing di sungai desa.

”Kesyirikan belum bisa dihilangkan.”
Malam semakin larut, kami mengantarkan Hasan pulang. Malam itu, aku tak nyenyak hendak tidur, akhirnya kupaksakan mata pejam, setelah sebelumnya berdoa agar musibah dan bencana tak menyambangi desa Cahaya yang mulai membuatku kerasan.

***

Pagi-pagi benar, aku dan Syahid siap-siap berangkat, keadaan di jalan sungguh sepi. Seperti biasa, kami naik sepeda, sampai di sekolah keadaan benar-benar sepi. Pak Danu, Bu Siska datang, menyusul kemudian Pak Yusuf. Kawan, sampai pukul sepuluh pagi, yang datang hanya kami berlima. Desa senyap, seolah tak berpenghuni.

Jangan-jangan.
Seorang datang mengenakan sepeda, dia Pak Wirya, rumahnya dekat dengan Sekolah. Terburu-buru mendekati kami di kantor, napasnya turun-naik.

”Anakku sakit, infeksi demam. Kutukan datang lagi, bagaimana ini Pak Danu?”
Pak Danu menurunkan kacamatanya, ”Kupikir aku tak akan menemui kejadian seperti ini lagi sampai aku meninggal, ternyata demikian cepat.”

Seseorang datang mengendarai sepeda, dia memberikan surat kepada Pak Danu lalu pamitan tanpa basa-basi. Lelaki itu adalah Ayahanda Bu Ria, Bu Ria sakit demam juga. Pak Lurah bingung, sedari tadi minta solusi kepada Pak Danu, tentang penyakit yang menyebar.

Pak Yusuf menjelaskan kepadaku tentang semua hal. Sepuluh tahun lalu, semua orang mengunci diri di dalam rumahnya, karena penyakit menyebar dan menular jika berinteraksi dengan penderita. Saat itu, banyak orang mati karena penyakit, mereka dikubur hanya oleh keluarganya masing-masing. Selain itu, beberapa orang  yang pergi ke hutan untuk melakukan sesajian, semuanya mati diterkam binatang buas, dengan tubuh tercabik-cabik, atau hilang tak pernah kembali.

Dan kejadian itu kini terulang. Pak Yusuf juga menyayangkan tentang kesyirikan di desa, tapi suaranya tidak didengarkan. Ingin sekali Pak Yusuf menyelidiki, sebenarnya apa yang disembunyikan di hutan lindung, tentang misteri yang ada di dalamnya, tapi selalu dihalangi oleh keamanan hutan.
Akhirnya semua pamit pulang, di rumah aku memiliki seseorang yang sepertinya tahu lebih banyak. Aku memaksa Kang Mukhlis menceritakan tentang segalanya, dan apa yang kira-kira bisa aku perbuat.?

”Ada seorang perawat yang ditelantarkan di sini. Jika kau bisa membujuknya, dia mungkin bisa membantu, karena pasti setiap penyakit bisa dijelaskan secara nyata, bukan berdasarkan pada kutukan-kutukan.”
”Siapa dia, Kang?”

”Ani.”