Jumat, 18 Oktober 2019

Part 19, Ustadz yang Lembut

Hari yang berlalu, seolah hari yang baru penuh dengan keindahan, jika kita pandai bersyukur. Selalu ada pelangi seusai hujan kala sore hari, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, begitu Allah berfirman dalam Al-Quran. Setelah menerima hadiah dari pondok, aku mengirimkan yang setengah ke Kampung, sekitar dua juta. Aku sangat rindu pada Ibu dan Bapak, semoga Allah selalu menjaga mereka, sebagaimana Allah menjagaku dengan cinta dan kasih sayangNya.
”Assalamu’alaikum. Ali mau berangkat kuliah ya?”
”Iya Tadz,” sapaan ini bukan sekali dua kali, bisa setiap hari jika aku berpapasan dengan Ustadz yang tutur sapanya begitu lembut, terasakan di hati seolah embun yang menetes di padang tandus, seumpama air kala dahaga memanas. Ustadz yang lembut itu bernama Muhammad Wahid Al Faza, biasanya sering dipanggil Ustadz Wahid, bahkan ada yang sering memanggilnya Syaikh Wahid. Beliau banyak menjadi rujukan, baik oleh pihak pondok maupun masyarakat sekitar, bahkan sampai sekitar Jawa dan kadang ada yang datang dari seluruh pelosok negeri dan dari luar negeri, hanya untuk belajar padanya.
Ustadz Wahid menyelesaikan program S3 di Mesir, di Al-Azhar dengan predikat mumtaz. Beliau Hafidz Quran, ditambah dia mengambil konsentrasi tafsir di tanah kelahiran nabi Musa as. Beliau sangat paham ilmu tafsir, sehingga beliau mengisi tafsir pada tingkat satu pondok, selain itu beliau juga mengajar sebagai Dosen di beberapa Universitas di Jawa, terutama Yogya dan Jabodetabek.
Kepiawaiannya tentang agama tak membuatnya lantas berbesar hati, siapa saja yang datang ke rumahnya untuk meminta membantunya pasti akan dibantu. Karena katanya, siapapun yang datang meminta memenuhi permintaanya, maka penuhilah! karena Allah tidak akan memenuhi hajatnya nanti di akhirat kelak karena hal itu. Itulah yang dikatakannya ketika kutanyakan. Ustadz Wahid ramah kepada siapapun, bahkan sekaliber pemuda pun tak lepas dari sapa lembutnya. Seolah hadirnya diharapkan, suaranya dirindukan kala dia mendapatkan tugas ke luar kota atau tugas lainnya.
Banyak masyarakat yang datang kepadanya sekedar untuk menanyakan perihal masalah yang dialami. Pernah seorang Guru sekolah datang menanyakan tentang pengajaran, maka dijawabnya.
“Tidak ada seorang pun yang dapat menanamkan ilmu, sebelum ia sendiri terjaga di fajar pengetahuan. Seorang guru hanya menghantarkan ke depan pintu ilmu. Gajah yang berilmu tidak akan memberikan belalainya kepada siapapun, manusia akan tegak sendiri di hadapan Tuhannya, menguak tabir pengetahuan, dengan kesadaran tanpa dapat dipaksa.
Jangan mengajari sesuatu yang tidak engkau lakukan, ingatlah Allah secara tegas berfirman : “Ata’ Muruu Nannasa Bil Birri Watansauna Anfusakum Wa Antum Tatluu Nal Kitaab. Afalaa Ta’qiluun[1], anda pasti tahu artinya bukan?”
”Jelaskan padaku Syaikh?”
“Baiklah. Aku akan menjelaskan sebisaku. Artinya; Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan? Sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Maka apakah kamu tidak berpikir.’ Tulus ikhlaslah dalam memberi, jangan pernah mengharapkan secuil pun dari buahnya. Biarkan dirimu seperti buah yang ketika memberi, dia bersyukur dan Allah-lah yang akan membalasnya.
“Pengetahuan itu adalah kasih sayang, maka ajarkanlah dengan rasa cinta dan ketulusan, ajarkan dengan hati bukan dengan lisan semata. Curahkanlah airmu tanpa ragu akan habis, yakinlah bahwa Allah akan menambah kucurannya, hingga jiwamu menjadi puas.”
Pernah juga datang dua orang wanita, yang meminta dijelaskan tentang pakaian, lagi-lagi jawaban Ustadz Wahid terekam kuat di ingatanku, ”Pakaian yang dikenakan manusia selalu menimbulkan penilaian baik itu, akan terlihat indah maupun jelek, tetapi tak mampu menutupi keburukan akhlaq. Akhlaq adalah perisai yang melindungi diri dari keburukan pandangan. Pakaian terindah adalah taqwa, pakaian yang ditenun dengan jarum makrifatullah, dan benangnya adalah malu.
Manusia juga tidak bisa menilai pakaian seseorang, kecuali Allahlah yang menilai secara hakiki, mana yang melindungi dirinya dengan pakaian terindah atau pakaian compang-camping penuh tambalan, Ingatlah, Allah telah berfirman tentang pakaian, “ Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat[2].”
Gadis yang di sebelahnya bertanya pula, ”Syaikh, tolong jelaskan padaku tentang keturunan dan anak,” pinta wanita itu penuh harap.
Ustadz menghirup napas pelan, “Anakku, anak-anak kalian sejatinya bukanlah milik kalian. Mereka adalah manusia yang merindukan kehidupannya sendiri. Melalui kalian, mereka lahir namun bukan dari kalian, dan bukan hak kalian.
Berikanlah mereka cinta dan kasih sayang, tumbuhkan kesadaran tentang Allah, karena mereka akan menjadi penghuni rumah-rumah di masa depan, jangan memaksa mereka seperti kalian. Kalian ibarat sebuah busur, dan anak-anak kalian itu anak panah yang meluncur, laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang sejatinya kalian sendiri. Jadikanlah anak kalian sebagai mujahid-mujahid, yang akan memenuhi bumi dan menegakkan kalimatullah,”
Pernah juga seorang tua yang terlihat kusut datang. Dia menceritakan bahwa dia baru saja keluar dari penjara, dia telah banyak melakukan kejahatan. Dia bertanya tentang kebaikan, maka Ustadz tersenyum dan menjawabnya, ”Saudaraku, kebaikan adalah akhlaq yang baik, akhlaq yang telah dicontohkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, semoga salam sejahtera selalu untuk mereka. Ingatlah jika dosa adalah yang merisaukan hatimu, dimana kamu merasa tidak suka apabila hal itu sampai dilihat oleh orang lain. Kebajikan akan terasa tenang, dan dosa akan menggelisahkan hatimu. Berikanlah maafmu sebelum diminta, dan berlakulah rendah kepada siapapun.
Kebajikan yang kita lakukan pada orang yang baik pada kita itu, adalah kebenaran namun yang jauh lebih berat adalah, kebajikan yang ikhlas kepada orang yang menyakiti kita. Ingatlah firman Allah dalam surat, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan[3],” dan sifat-sifat yang baik itu, tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Kebaikan itu mempunyai cabang-cabang, seperti ranting yang menjulur ketika buahnya mulai terlihat semakin menjulurkan, agar manusia lebih mudah untuk memetiknya. Ada yang memetiknya dengan lembut maupun dengan keras, dan melemparinya, namun sang pohon dengan cinta dan ketulusan memberikannya, dan tidak pernah mengharapkan buahnya kembali lagi ke dalam dirinya, karena dia yakin akan menghasilkan buah kebaikan lagi untuk selanjutnya.”
Datang juga seorang kontraktor, yang menanyakan tentang tempat tinggal dan bangunan, yang merupakan pekerjaan yang setiap hari digelutinya.
Ustadz lembut yang tak pernah menampakkan wajah lesu itu menjawab pelan, “Tempat tinggal yang sejatinya adalah tempat kalian berteduh dari sengatan matahari dan lebat hujan, atau pekatnya malam yang menebarkan jubah hitamnya ke penjuru alam, menjadi nyala semangat, tapi tengoklah dari balik pintu apakah kalian temukan kedamaian? Kalian bukanlah penghuni bangunan-bangunan mati, maka hidupkanlah. Hidupkanlah dengan mengalirkan ketaqwaan diri, hidupkan dengan bacaan Al-Quran, yang mengalirkan ke angkasa semesta raya, hingga sampai menembus Arsy-Nya.
Saudaraku, setiap manusia yang hendak membuat konstruktur, harusnya dia mentadaburi Al-Qur’an. Allah ’Azza Wa Jalla secara tegas mengingatkan manusia, bagi siapapun yang hendak membuat rumah. Ingatlah peringatan Allah dalam firman-Nya, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui[4],” nyala sebuah rumah adalah pancaran dari jiwa, pancaran dari orang-orang yang menghuninya. Percuma jika rumah yang mewah dibangun, tanpa pemiliknya mau menghidupkannya.
Kalian adalah hamba Allah yang mempunyai kebebasan mutlak, tanpa terkungkung oleh apapun. Namun, apakah kalian tenang di tempat peristirahatanmu yang teduh, jika terlena kalian akan masuk perangkapnya, dan mungkin dikuasai olehnya. Rumah kalian tidak akan menjadi sangkar, melainkan tiang utama kapal layar yang siap mengarungi alam raya. Kalian tak perlu bernapas dengan cemas, karena takut dindingnya  retak. Karena itu, segala sesuatu adalah muara jiwa mengalir ke angkasa, berpintu embun pagi dan berjendela tasbih, dan kebisuan malam akan menyejukkan hati.”
Seorang pedagang datang suatu hari menanyakan tentang perdagangan. Seolah tak menggubrisku yang saat itu duduk di sebelah mereka. Di emperan masjid, ”Sebenarnya engkau lebih mengetahui hakikat perdagangan, karena engkau langsung melakukannya dari terkecil, praktek yang senantiasa bertahap mengajarimu semakin mengetahui makna barang dan harta. Bumi tak pernah kehilangan buahnya, asalkan kita tahu bagaimana cara mengisi tangan-tangan kita. Jika telah terisi tanpa disertai cinta dan itsar[5], maka akan  menyeret pada keserakahan.
Jual beli adalah seni, perdagangan adalah sembilan bagian dari sepuluh rezeki yang diturunkan Allah ke dunia, melalui jalannya masing-masing. Ingatlah setiap transaksi hendaknya ditulis, bukan untuk ketidakpercayaan, namun untuk menjaga kepercayaan. Sebelum transaksi selesai, hendaklah teliti dahulu sehingga tidak ada yang meninggalkan jual beli dengan tangan kosong, apalagi hatinya kosong. Jual beli tidak akan dikatakan benar, jika ada di antara kalian belum terpenuhi kebutuhannya.
Rasulullah saw –Semoga salam senantiasa untuknya- bersabda dari Jabir bin Abdullah ra : “Allah mengasihi orang  yang bermurah hati ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih, (Rohimallaahu Rojulan Samhan Idzaa Baa ‘Awa Idzaasy Tarowaidzaaq Tadho). Berdaganglah dengan cinta, seperti teladan Rasulullah dalam perniagaanya.
Syahid suatu hari bertanya dan aku menemaninya. Dia bertanya tentang kesyukuran. Lagi-lagi aku mendapatkan ilmu gratis, ”Anakku, sesungguhnya jikalau dunia ini digulung dijadikan lautan. Samudera dan sungai serta sumur dikumpulkan airnya, untuk dijadikan tinta dan seluruh semesta dihamparkan untuk dijadikan kertasnya, sampai dunia ini berakhirpun tak akan mampu menuliskan seluruh karunia Allah di dunia. Bukankah telah sampai cerita padamu, tentang seorang hamba yang seluruh hidupnya dihabiskan hanya untuk beribadah di dalam gua, dia hanya keluar saat lapar dan memetik buah di depan gua, serta minum dari air sungai yang mengalir pula di depan gua, selanjutnya dia beribadah kembali hingga akhir hayatnya.
Tahukah antum, seluruh ibadahnya ditimbang tidak sebanding dengan beratnya sebiji bola matanya, dia masuk surga karena rahmat Allah, bukan karena ibadahnya sepanjang waktu.
Napas kita, denyut nadi kita, detakan jantung kita, hembusan lembut setiap pori-pori adalah cinta yang dianugerahkan Allah untuk manusia. Tahukah ayunan tangan dan langkah kaki kita adalah cinta, rambut, kuku, dan gigi kita adalah cinta. Setiap organ dalam tubuh manusia, adalah cinta yang tersalur dari satu organ ke organ yang lain. Saling melengkapi untuk membentuk satu kesatuan cinta, dan itulah bentuk dari cinta, yaitu kehidupan.
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang[6], dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki. Tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?[7]
Nikmat mana yang akan manusia dustakan?, karena semuanya telah sempurna ada pada diri manusia. Manusia yang berputus asa hanyalah manusia yang tidak bersyukur akan hidupnya, dia berpikir lebih baik menjadi sahabat setan, daripada hidup bersanding dengan cinta dan keindahan dalam naungan Allah. Ingatlah sabda Rasulullah saw, “Apabilah kamu melihat seseorang dikaruniai kelebihan dengan harta melimpah-limpah dan dengan kecantikan, hendaklah ia memandang kepada orang yang lebih rendah darinya daripada memandang orang yang melebihi dirinya[8],” karena itu lebih menjadikan kamu, tidak meremehkan nikmat Allah.
 Banyak sekali orang yang menginginkan kekuasaan seperti yang Rasulullah dapatkan, banyak manusia yang menginginkan kehidupan tenang dan mesra seperti keharmonisan Rasulullah dan keluarganya. Banyak orang menginginkan puncak kebahagiaan yang dirasakan Rasulullah, tapi kadang mereka melupakan bahwa Rasulullah biasa mengalami kelaparan, hingga perutnya diganjal dengan batu-batu kerikil untuk menahan lilitan lapar, dan beberapa hari asap tidak mengepul dari dapur beliau. Kesyukuran adalah lauk ternikmat yang ada di seluruh dunia dengan kesyukuran. Setiap apapun yang didapatkan, adalah keindahan karena Dia Yang Memberi.
”Tadz, terangkan padaku lagi tentang Hukum dan Amanah?” Syahid kembali bertanya. Hukum? Dia memang mengambil jurusan Hukum di UI. Pantas saja.
“Manusia selalu tak pernah puas, mereka membuat undang-undang untuk mengatur kehidupan mereka, namun seringkali dibuat untuk dilanggar seperti pembuat menara dari pasir di pantai lalu tertawa renyah gembira, sambil bertepuk tangan ketika mereka menghancurkannya. Atau seperti orang yang datang dalam sebuah undangan, dia datang paling awal, kemudian perut mereka sakit karena kekenyangan, lalu setelah pulang, mereka bergumam bahwa pesta itu adalah pemborosan.
Hukum mana lagi yang lebih baik, daripada hukum Rabb yang menciptakan. Hukum manusia manapun, tak dapat melarang burung kutilang untuk bernyanyi, tak dapat melarang capung untuk berhenti dari terbangnya.
Allah mengingatkan manusia melalui Ictinkari (kecaman) bagi orang-orang yang mengulur-ulur waktu, untuk masuk dalam keindahan Islam secara total dan tidak mau berhukum hanya pada-Nya, “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya (hukum) Allah dalam naungan awan dan malaikat, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.[9]
Tahukah engkau anakku apa itu amanah, dalam Islam sesuatu yang paling ringan adalah mengucapkan syahadat, dan yang paling berat adalah amanah. Jika mengkhianati, ibarat kekeringan yang lama dan tiada bekasnya lagi terkena hujan lebat sehari. Jika mengkhianati, semuanya akan musnah bagai debu di atas batu licin yang dihempaskan angin yang datang berduyun-duyun. Amanah adalah cinta, engkau akan menjaganya dengan sepenuh jiwamu, karena Sang Kekasih menginginkan keutuhannya. Engkau akan memeluknya dengan erat, hingga tak pernah terlepas. Sedikit debu pun yang menempel, engkau tiup dengan senyuman, jagalah ia agar selalu menimbulkan kerinduan, yang akan memenuhi hatimu dengan cinta dan ketulusan.”
”Tadz, bolehkah aku bertanya?” aku agak ragu hendak bertanya.
”Silakan Ali,” senyumnya kembali menghunjam teduh.
”Terangkan padaku tentang kematian, agar dapat kujadikan pegangan hidup.”
“Suatu ketika di zaman Nabi Sulaiman as. Dihikayatkan Bahwa malaikat maut pada suatu ketika masuk kepada Sulaiman ibnu Dawud as. Dia menatap lama dan tajam kepada salah seorang Sahabat Nabi Sulaiman as, yang berada di dekatnya. Kemudian Malaikat yang menjelma menjadi manusia itu keluar. Sahabat nabi yang ditatap tersebut bertanya, “Wahai Nabiyullah, siapakah laki-laki itu? Nabi Sulaiman as menjawab, “Sesungguhnya dia adalah malaikat maut.”
Sahabat nabi berkata, “Wahai Nabiyullah, aku melihat dia memandang lama kepadaku, dan aku takut dia hendak mencabut rohku. Selamatkanlah aku darinya?” dia berkata lagi, “Saya mohon tuan memerintahkan angin, agar membawaku ke negeri India. Mudah-mudahan dia kehilangan jejak dan tidak menemukanku.” Maka nabi Sulaiman as memerintahkan angin, supaya membawa sahabatnya pada saat itu juga, ke negeri India. Lalu angin itu membawanya pada saat itu juga.
Ternyata, setelah orang itu sampai di India. Malaikat mencabut rohnya, dan Malaikat maut itu kembali lagi kepada nabi Sulaiman as. Nabi bertanya kepadanya, “Apa sebabnya kamu memandang lama kepada laki-laki itu?” Malaikat maut itu berkata, “Aku merasa heran, karena sesungguhnya aku diperintahkan Allah untuk mencabut rohnya di negeri India, sedangkan dia sangat jauh dari India untuk bisa sampai tepat pada waktunya (dicabut rohnya). Ternyata, dia dibawa oleh angin hingga dapat sampai disana tepat dengan habis ajalnya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah SWT. Maka, aku mencabut rohnya disana.”
Anak-anakku, manusia itu laksana buih di tengah lautan, yang mengambang di atas permukaan. Ketika angin bertiup, dia hilang, seolah-olah tidak pernah ada. Begitupun hidup kita dihembus oleh kematian. Betapa banyak para Mukminun menginginkan kematian yang baik, namun berdiam diri tanpa melakukan amal sholih. Mereka takut pada neraka Allah, namun mereka tetap diam saja, dan mereka juga sangat mengharapkan surga, namun mereka juga hanya diam.
Kematian adalah wujud cinta Allah yang paling nyata, karena dengan jalan itulah tiada lagi jarak antara kita dan diri-Nya, hingga dapat setiap saat bermesraan dan merenda rindu tanpa harus memendamnya lagi. Kematian tak dapat diundur walau setengah denyutan nadi, ataupun seperempat detik sekalipun dan ia juga tidak dapat dimajukan. Menghindar maupun mendekat tak akan pernah merubah ketentuan yang telah ditulis dalam Lauh Mahfudz.”
”Bolehkah aku mewakili pertanyaan Ayahku, seandainya dia ada disini, tentu dia akan bertanya tentang pertanian,” aku menatapnya penuh harap.
     “Pertanian, Ingatlah Allah berfirman dalam Al-Quran, ketika melihat hambaNya bekerja untuk-Nya : “Wamaa Yaf’aluu Minkhoirin Filayukfaruuh, Wallahu ‘Aliimun Bilmuttaqiin[10], dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya ; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertaqwa,” Allah tidak akan melepaskan pandangnya sedetikpun dari setiap kerja hamba-hamba-Nya, yang sejatinya untuk kemaslahatan ummat.
Petani bekerja mengiringi langkah dunia, jika dia berpangku tangan saja, maka akan terasa asing dari semua musim yang berjalan dan terlewati. Banyak orang berkata bahwa kerja adalah kutukan, dan kesusahan adalah takdir yang telah ditentukan, tetapi ingatlah ketika bekerja sebenarnya kita memenuhi puncak tertinggi cita-cita dunia, mengisi perut siapapun untuk bertahan, dan kembali bertenaga menyembah Allah dengan daya dari-Nya.
Bekerja dengan rasa cinta, akan menyatukan diri dengan diri-diri orang lain dan kepada Allah. Bagaimanakah bekerja dengan cinta? Bagaikan menjahit kain yang benangnya dari hati, seolah kekasihmulah yang akan mengenakannya. Dan Kekasih itu, hanyalah Allah Rabb Semesta Alam, kerja adalah cinta yang menjadi nyata.
Dan ingatlah anakku, Allah juga berfirman, “Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanam-tanamannya hanya tumbuh merana, demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur,[11]” setiap hasil yang kita peroleh adalah dari-Nya, dan itulah buah hasil dari kerja, taat, dan taqwa kita. Apapun hasilnya, tugas kita adalah bersyukur pada-Nya.”
Ustadz yang lembut dan ramah, aku melangkah meninggalkannya. Banyak hal yang kuingat tentangnya. Perasaanku ingin berbalik, ada suatu hal yang ingin kutanyakan padanya. Mumpung masih pagi!
”Tadz, bolehkah aku bertanya suatu hal?” anggukannya membuatku tersenyum, kami duduk di pinggir kolam ikan mas di pojok depan pondok, ”Tadz, jelaskan padaku apa itu cinta? Setidaknya aku ingin mendengar dari Ustadz tentang cinta, begitu banyak pengertian cinta dari setiap orang. Katakanlah menurut Ustadz.”
“Cinta,” Ustadz terlihat menatap langit sejenak, ”Apabila dia memanggilmu, bersamalah dengannya, walaupun jalan itu berat kau tempuh, jika kamu punya sayap maka kepakkanlah dengan sekuat tenaga mengikutinya. Peganglah erat tangannya, walau pada tangannya terdapat banyak pisau tajam yang menempel. Jadikanlah dia mahkotamu, jadikanlah dia rujukan untuk menentukan langkah. Jadikan dia pilihan terindah, karena cinta itu ada di hati, maka tidak ada yang dapat melihatnya kecuali cinta itu sendiri. Datanglah ketika panggilan cinta itu hadir, sebagaimana Hanzhalah ra. Memenuhinya, walaupun dia ada pada malam pertama pengantin dan dia masih junub.
Cinta itu begitu indah, karena setiap bagiannya adalah cahaya dan keindahan. Meskipun engkau melihat ada kenikmatan lain yang tampak di mata, sejatinya hanyalah tipuan. Datanglah pada Allah dengan penuh cinta, maka cinta akan selalu menyertaimu dalam setiap lakumu.
Jika ada cinta yang bukan bersumber dari Allah, hakikatnya adalah nafsu yang menjelma menjadi kuntum mawar, yang menyedakkan hidung jika telah tertusuk racunnya. Jika engkau memilih, maka pilihlah cinta karena dia memang tidak pernah salah untuk memilih. Dengannya engkau akan merasakan kehebatan kekasihmu, sehingga engkau larut secara keseluruhanmu, dan tidak tersisa sedikitpun daripadamu.
Allah ’Azza Wa Jalla berfirman, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi kamu[12],”  dan jika dunia dan seisinya lebih kamu cintai dari Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan putusanNya pada kita semua. Pernahkah engkau mendengar kisah seorang wanita yang sangat cinta kepada Rasulullah saw, hingga sering bersyair di malam hari?”
“Belum Tadz, ceritakanlah.” 
“Dengarlah anakku.  Ibnul Mubarak dan Ibnu Asakir meriwayatkan kisah ini dari Zaid Ibnu Aslam, katanya : “Suatu malam, Umar Ibnu Khathab keluar untuk menjaga kampung, maka ia melihat sinar pelita di suatu rumah. Ia mendekati rumah itu, ia melihat seorang wanita yang telah lanjut usia yang mengurai rambutnya dan ia sedang bersyair : “Semoga bagi Muhammad tercurah shalawat orang-orang baik, shalawat atasmu dari orang-orang pilihan dan baik. Engkau suka beribadah malam dan suka menangis di pertigaan malam. Semoga ketika mati datang menjemputku aku dapat disatukan dengan kekasihku (Muhammad saw) dalam satu tempat.
Mendengar bait-bait syair itu, umar menangis, sampai ia mengetuk pintu rumah wanita tua itu. Ia mendengar suara dari dalam, “Siapa yang mengetuk pintu pada saat seperti ini?” Umar menjawab: “Aku adalah Umar.” Akhirnya Umar dipersilakan masuk dan berkata, “Maukah engkau mengulangi bait-bait syairmu tadi?”
Wanita itu mengulanginya hingga di akhir bait. Tanya Umar : “Maukah engkau memasukkan aku bersama kalian berdua?” maka wanita itu berkata : “Semoga shalawat Allah tercurah juga bagi Rasulullah saw dan bagi Umar. Maka ampunilah ia, wahai Zat yang Maha Pengampun.” Setelah itu Umar pun pulang.”
Itulah cinta wahai Ali, cinta itu sangat banyak makna namun ingatlah pesan Rasulullah saw, “Cintailah kekasihmu sekedarnya, mungkin, kelak, engkau akan membencinya. Dan bencilah musuhmu sekedarnya, mungkin, kelak, engkau akan mencintainya[13].
Ingatlah juga pesan Ali bin Abi Thalib berkata : “Jadilah engkau sebagai penyimpan kebajikan dan bersihkan dirimu dari segala noda, karena engkau akan melihat dan mendengar apa yang pernah engkau lakukan. Cintailah kekasihmu sepantasnya, karena engkau tidak tahu kapankah engkau akan membencinya dan bencilah musuhmu sepantasnya, karena engkau tidak tahu kapankah engkau akan mencintainya.” Aku tahu sebenarnya engkau sudah sangat paham Ali, tapi mungkin inilah pesan dariku.”    
“Ingatlah anakku, Allah berfirman dalam surat cinta-Nya, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya[14],” dosa terbesar adalah syirik anakku, mencintai apapun selain Allah apalagi melebihinya, semuanya adalah kemusyrikan yang tersembunyi maupun yang nampak.
Apabila dalam hati manusia ada posisi yang sama dengan Allah, letaknya sama dengan cinta pada Allah. Maka bagaimana bila cinta Allah disingkirkan dari hatinya, lalu tandingan-tandingan ini semata yang dicintainya, padahal cinta itu tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah? Sesungguhnya orang-orang mu’min tidak mencintai sesuatu sebagaimana cinta mereka kepada Allah, bahkan tidak mencintai dirinya sendiri sebagaimana mencintai Allah.
Adapun orang-orang beriman amat sangat mencintai Allah, cinta total  yang tidak dapat dicari bandingannya, dan terlepas dari segala ikatan. Lebih besar cintanya kepada Allah, ketimbang segala cinta yang dipersembahkan kepada selain-Nya. Cinta itu begitu indah, hingga setiap bagiannya adalah cahaya, setiap salurannya adalah kesejukan, dan setiap ruangnya adalah petunjuk, setiap celahnya adalah ketenangan.”
Aku pamitan untuk ke kampus pada Ustadz, lagi – lagi dia mengiringi kepergianku dengan senyuman. Aku membalasnya. Pagi ini langit begitu cerah, kakiku melangkah penuh cinta di setiap ayunannya, bahkan menginjak bumi pun harus dilakukan dengan cinta. Bukankah kehidupan ini adalah bukti cinta dari Allah, maka aku akan mencintaiMu ya Allah dengan cara mencintai semua ciptaanMu.


[1] QS Al-Baqarah : 44
[2] QS Al-A’raaf : 26
[3] QS Al-Mu’minuun : 96
[4] QS Al-‘Ankabut 41
[5] Mendahulukan kepentingan orang lain
[6] QS An-Nahl : 18
[7] QS An-Nahl : 71
[8] HR Muslim halaman 1141
[9] QS Al- Baqarah : 203
[10] QS Ali Imraan : 109
[11] QS. Al-A’raaf : 58
[12]  QS. Ali ‘imran :31
[13] HR Bukhari, adabul Mufrad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah
[14] QS. Al-Baqarah :165

Tidak ada komentar:

Posting Komentar